Delapan SMV mengambil peran sesuai dengan mandat dan kompetensinya. LPEI/Indonesia Eximbank mendukung pengolahan pasca panen dan penyediaan alat penunjang produk kemiri; PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) memperkuat kapasitas petani di Lombok, Sumbawa, dan Bima; sedangkan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mendukung penanaman bibit kemiri.
PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) mendukung pembangunan sentra produksi, PT Geo Dipa Energi (PT GDE) memasang panel surya, dan PT Karabha Digdaya mendukung
pengelolaan pasca panen. Sementara itu, Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sejahtera Eka Graha mengembangkan produk turunan berupa briket dan minyak kemiri.
Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
“Kemiri adalah salah satu potensi NTB yang dapat kita tingkatkan nilai tambahnya. Kolaborasi ini penting agar pengembangannya tidak berhenti pada produksi, tetapi terhubung dari hulu hingga hilir dan mampu menjangkau pasar global. Kami berharap manfaat akhirnya kembali kepada masyarakat melalui peningkatan produktivitas, pendapatan petani, dan tumbuhnya kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Iqbal.
Direktur Eksekutif LPEI Sukatmo Padmosukarso mengatakan, sinergi SMV diharapkan dapat membangun ekosistem kemiri NTB yang semakin kuat, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga membuka akses ke pasar global. Sebagai lembaga yang memiliki mandat mendorong ekspor nasional, LPEI berperan memperkuat kesiapan produk dan pelaku usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
“Kemiri NTB memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor bernilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana kita menghubungkan potensi di tingkat petani dengan standar kualitas, pengolahan, dan akses pasar global. Melalui sinergi SMV, kami ingin membangun rantai nilai yang lebih kuat sehingga manfaat ekspor tidak hanya terlihat dari peningkatan transaksi, tetapi juga dirasakan oleh petani dan masyarakat di daerah,” ujar Sukatmo.
Berdasarkan kajian dan asesmen lapangan Yayasan Insan Bumi Mandiri, program ini diharapkan meningkatkan jumlah petani yang terlibat di Lombok, Sumbawa, dan Bima menjadi 550–720 orang dan produksi secara bertahap menjadi 2.400–3.600 ton per tahun. Pendapatan petani ditargetkan meningkat 20–25 persen dan efisiensi produksi 60–70 persen. Program juga diharapkan menambah 3–6 negara tujuan ekspor serta meningkatkan nilai ekonomi lokal sekitar Rp30 miliar–Rp40 miliar per tahun.
Rangkaian peluncuran juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB mengenai pengembangan kapasitas UMKM berorientasi ekspor. LPEI turut menyerahkan Buku Potensi Ekspor NTB yang memuat kajian komoditas unggulan daerah untuk dikembangkan ke pasar global.
Kegiatan ditandai pula dengan simbolisasi penyerahan bibit kemiri & pelepasan ekspor komoditas unggulan NTB berupa kemiri tujuan Jepang dengan potensi pasar Singapura serta vanilla tujuan Amerika Serikat sebanyak 1,4 ton dengan nilai Rp3,8 miliar, dan showcase produk unggulan dari 16 pelaku usaha binaan SMV di NTB.
Pada kesempatan tersebut, LPEI juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai upaya memperkuat daya saing ekspor daerah. Nota Kesepahaman tersebut mencakup komitmen kerja sama dan sinergi antara LPEI dan Pemerintah Provinsi NTB dalam pengembangan kapasitas usaha kecil dan menengah (UKM), koperasi, serta badan usaha milik desa (BUM Desa) yang berorientasi ekspor di NTB.
Peluang pasar ekspor masih terbuka
Kajian IEB Institute mencatat nilai ekspor kemiri Indonesia mencapai 9,58 juta dollar AS pada Januari–September 2025. Pada 2024, Indonesia berada di peringkat ke-13 eksportir kemiri dunia dengan pangsa sekitar 0,5 persen dari ekspor global. Bangladesh dan Malaysia menjadi dua pasar utama dengan pangsa gabungan 64 persen.
Di sisi lain, peluang perluasan pasar masih terbuka. Tiongkok, Amerika Serikat, Vietnam, Jerman, dan Belanda teridentifikasi sebagai pasar dengan potensi ekspor yang belum tergarap. Karena itu, peningkatan kualitas, konsistensi produk, modernisasi pengolahan, dan penguatan akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan kemiri NTB.
Pengembangan ekspor kemiri NTB dapat diarahkan pada peningkatan nilai tambah, penguatan mutu, dan perluasan akses pasar. Kemiri memiliki potensi sebagai komoditas rempah dan bahan baku industri pangan, terutama untuk produk bumbu, saus, makanan olahan, dan minyak nabati. Namun, agar dapat masuk ke pasar ekspor secara lebih kompetitif, kemiri NTB tidak cukup hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk yang lebih siap industri sepertikemiri kupas, kemiri sangrai, kemiri bubuk, pasta bumbu, dan minyak kemiri.
(tim)





























