Prospek Ekspor Tekstil Membaik, LPEI Perkuat Dukungan Industri

Bloomberg Technoz, Jakarta - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia dinilai masih memiliki prospek yang menjanjikan untuk memperbesar kontribusinya terhadap ekspor nasional. Seiring mulai pulihnya permintaan global dan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap produk tekstil yang berkelanjutan, pelaku industri memiliki peluang untuk memperluas penetrasi di pasar internasional.
Meski demikian, peluang tersebut juga dibarengi dengan tantangan yang tidak ringan. Persaingan dari negara produsen utama seperti China, India, dan Vietnam semakin ketat sehingga industri tekstil nasional dituntut meningkatkan efisiensi, memperkuat rantai pasok, serta mempercepat modernisasi fasilitas produksi agar mampu mempertahankan daya saing.
Indonesia Eximbank Institute mencatat sepanjang 2025 permintaan global terhadap produk tekstil hulu mulai menunjukkan tren pemulihan. Produk seperti benang, kain tenun, hingga kain rajut kembali mengalami peningkatan permintaan sehingga menjadi sinyal positif bagi industri tekstil Indonesia dalam meningkatkan ekspor.
Momentum tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam LPEI Export Forum (LEF) Bandung yang diselenggarakan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) pada akhir Juli 2026. Mengusung tema Membangun Rantai Pasok Garmen yang Kompetitif dan Berkelanjutan untuk Pasar Global, forum ini mempertemukan pelaku industri, eksportir, pemasok, asosiasi, hingga berbagai pemangku kepentingan.
Forum tersebut menjadi wadah untuk membahas perkembangan pasar ekspor sekaligus strategi memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan lanskap perdagangan dunia yang semakin kompetitif.
Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto, mengatakan struktur ekspor tekstil Indonesia saat ini masih didominasi produk finished fabric yang memberikan kontribusi sekitar 74 persen terhadap total ekspor TPT nasional.
Menurutnya, keberhasilan ekspor tidak hanya bergantung pada industri garmen sebagai sektor hilir, tetapi juga ditentukan oleh kesiapan seluruh mata rantai industri mulai dari pemasok bahan baku hingga proses distribusi.
"Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia," ujar Anton.
Prospek Ekspor Diproyeksi Terus Meningkat
Indonesia Eximbank Institute memperkirakan ekspor tekstil nasional masih akan tumbuh secara bertahap hingga 2027. Prospek tersebut didukung membaiknya kondisi ekonomi global serta ekspektasi penurunan suku bunga internasional yang diperkirakan mampu mendorong konsumsi masyarakat dunia, termasuk terhadap produk pakaian.
Pada 2026, ekspor tekstil nasional diproyeksikan meningkat sekitar 2 persen hingga 3,2 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekspor saat ini yang berada di kisaran 1,3 persen.
Sementara pada 2027, pertumbuhan ekspor diperkirakan mencapai 3,5 persen hingga 4 persen. Permintaan terhadap produk tekstil ramah lingkungan diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan tersebut, terutama di pasar premium yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
Anton menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi modal untuk memanfaatkan peluang tersebut. Selain biaya tenaga kerja yang masih kompetitif, Indonesia juga memiliki struktur industri tekstil yang relatif terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa industri tetap perlu meningkatkan produktivitas, mempercepat modernisasi mesin produksi, serta memenuhi berbagai standar keberlanjutan yang kini menjadi syarat penting dalam perdagangan internasional.
Untuk mendukung transformasi tersebut, LPEI menyediakan berbagai layanan pembiayaan dan perlindungan yang disesuaikan dengan kebutuhan eksportir.
Fasilitas tersebut meliputi pembiayaan pra-pengapalan (pre-shipment financing), pembiayaan pascapengapalan (post-shipment financing), Trade Credit Insurance (TCI) yang memberikan perlindungan terhadap risiko gagal bayar dari pembeli luar negeri, hingga Marine Cargo Insurance untuk melindungi barang selama proses pengiriman.
Langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya mendorong revitalisasi industri tekstil dan alas kaki melalui penyediaan pembiayaan yang lebih terjangkau melalui Indonesia Eximbank atau LPEI. Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku industri memperbarui peralatan produksi sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar global.
Anton menegaskan bahwa penguatan industri tekstil tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha.
"Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global," kata Anton.
Dukungan pembiayaan dinilai menjadi salah satu faktor penting karena mampu memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas akses pasar ekspor tanpa terbebani risiko perdagangan internasional yang tinggi.
Manfaat tersebut turut dirasakan oleh PT Ungaran Sari Garments. Direktur Utama PT Ungaran Sari Garments, Maniwanen, menyampaikan bahwa fasilitas yang diberikan LPEI telah membantu perusahaan menjaga kelancaran kegiatan ekspor sekaligus memperkuat mitigasi risiko.
"Fasilitas LPEI sangat membantu operasional ekspor kami. Selain mengurangi beban pembiayaan, produk asuransinya juga memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko sehingga kami lebih percaya diri dalam memperluas pasar ekspor," ujarnya.
Menurutnya, dukungan tersebut memberikan kepastian yang lebih besar dalam menjalankan aktivitas perdagangan internasional. Perlindungan terhadap risiko pembayaran maupun pengiriman barang membuat perusahaan dapat lebih fokus mengembangkan pasar ekspor baru.
Kolaborasi yang semakin erat antara pemerintah, LPEI, dan pelaku industri diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen tekstil yang kompetitif di pasar dunia.
Dengan penguatan rantai pasok, peningkatan kapasitas industri, modernisasi produksi, serta dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, industri tekstil nasional memiliki peluang untuk meningkatkan kontribusinya terhadap ekspor nasional sekaligus memanfaatkan pertumbuhan permintaan global yang diproyeksikan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.
































