Visa Perbarui Roadmap Keamanan Pembayaran Indonesia

Bloomberg Technoz, Jakarta - Visa memperbarui Visa Indonesia Security Roadmap sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan dan ketahanan ekosistem pembayaran digital di Indonesia. Pembaruan tersebut diperkenalkan dalam Visa Indonesia Risk Forum yang digelar pada 24 September 2026.
Forum tersebut mempertemukan berbagai pelaku industri pembayaran, mulai dari penerbit kartu, acquirer, merchant, regulator hingga mitra ekosistem. Pertemuan ini menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk membahas perkembangan risiko, berbagi pengalaman, serta memperkuat kolaborasi menghadapi ancaman terhadap transaksi digital.
Visa Indonesia Risk Forum digelar dua kali dalam setahun. Agenda tersebut menjadi salah satu wadah bagi industri untuk mendiskusikan perubahan lanskap risiko sekaligus menyusun langkah bersama dalam menjaga keamanan sistem pembayaran.
Pembaruan roadmap menjadi bagian dari respons terhadap perkembangan ancaman keamanan yang semakin dinamis. Visa menyebut roadmap tersebut telah dikembangkan sejak pertama kali diperkenalkan pada 2018 dan terus disesuaikan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan industri.
Pertumbuhan ekonomi digital membuat keamanan transaksi menjadi semakin penting. Di tengah meningkatnya penggunaan pembayaran digital, pelaku industri menghadapi tantangan berupa penipuan yang semakin kompleks, ancaman siber, serta kebutuhan menjaga pengalaman pembayaran agar tetap mudah dan lancar.
Visa Indonesia Security Roadmap yang diperbarui menetapkan lima prioritas utama bagi ekosistem pembayaran Indonesia. Kelima prioritas tersebut mencakup penguatan kemampuan menghadapi penipuan berbasis kecerdasan buatan atau AI hingga kesiapan menghadapi risiko keamanan yang muncul dari perkembangan teknologi.
Prioritas pertama adalah memperkuat kemampuan industri untuk mengantisipasi dan merespons ancaman penipuan berbasis AI. Perkembangan AI membuat modus penipuan dapat menjadi semakin kompleks sehingga membutuhkan kemampuan deteksi dan respons yang ikut berkembang.
Prioritas kedua berkaitan dengan pengembangan metode autentikasi yang lebih canggih. Visa menyoroti penggunaan biometrik dan passkey sebagai alternatif terhadap penggunaan kata sandi maupun kode OTP dalam proses autentikasi transaksi.
Prioritas berikutnya adalah peningkatan ketahanan siber untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang. Industri juga perlu menjaga integritas dan ketahanan sistem agar dapat mengurangi risiko kegagalan sistem maupun serangan siber.
Sementara itu, prioritas kelima diarahkan pada kesiapan menghadapi tantangan keamanan di masa mendatang. Salah satu perhatian yang disebut dalam roadmap adalah risiko yang berkaitan dengan kriptografi pascakuantum atau post-quantum cryptography.
Lima Prioritas Keamanan Transaksi Digital
Penyusunan roadmap dilakukan melalui dialog berkelanjutan dengan berbagai pihak di industri pembayaran. Lembaga keuangan, merchant, penyedia layanan pembayaran, dan pemangku kepentingan lainnya dilibatkan dalam proses tersebut.
Pendekatan kolaboratif itu dilakukan untuk memastikan prioritas keamanan yang dirumuskan dapat mencerminkan kebutuhan pasar. Dengan demikian, upaya memperkuat keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi agenda bersama dalam ekosistem pembayaran.
Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari mengatakan perkembangan ekonomi digital perlu diiringi dengan upaya menjaga kepercayaan konsumen dan pelaku usaha. Menurutnya, keamanan transaksi menjadi salah satu fondasi penting dalam pertumbuhan ekonomi digital.
“Ekonomi digital Indonesia terus membuka peluang besar bagi pelaku usaha dan konsumen. Sejalan dengan hal tersebut, kebutuhan untuk menjaga kepercayaan konsumen dan keamanan dalam setiap transaksi menjadi semakin penting. Penyempurnaan Visa Indonesia Security Roadmap mencerminkan komitmen kami untuk terus bekerja sama dengan mitra industri dalam memperkuat fondasi ekosistem pembayaran Indonesia. Dengan menyelaraskan prioritas bersama dan aksi kolektif industri, kami bisa membantu konsumen dan pelaku usaha bertransaksi dengan lebih percaya diri, sekaligus mendukung perkembangan ekonomi digital dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Vira.
Dalam forum tersebut, Visa bersama pelaku industri juga membahas perubahan lanskap risiko yang dihadapi sektor pembayaran. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah perkembangan modus penipuan yang semakin canggih.
Risiko penipuan pada transaksi tanpa kehadiran fisik kartu atau card-not-present fraud juga menjadi bagian dari pembahasan. Jenis transaksi tersebut menjadi salah satu area yang membutuhkan penguatan sistem keamanan seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital.
Teknologi analitik turut menjadi bagian dari strategi menghadapi risiko tersebut. Pembahasan dalam forum mencakup pemanfaatan machine learning, risk intelligence, dan data tingkat lanjut untuk membantu meningkatkan kemampuan keamanan transaksi.
Pemanfaatan teknologi tersebut diarahkan agar peningkatan keamanan tidak mengorbankan pengalaman pengguna. Dengan pendekatan yang tepat, sistem pembayaran diharapkan dapat mendeteksi risiko sekaligus mempertahankan proses transaksi yang tetap praktis bagi konsumen dan pelaku usaha.
Head of Risk Visa Indonesia Nitia mengatakan industri pembayaran perlu mempersiapkan diri terhadap ancaman yang telah muncul maupun risiko baru yang berpotensi berkembang seiring perubahan teknologi.
“Seiring dengan modus penipuan yang terus berkembang, industri pembayaran perlu mengantisipasi ancaman yang ada saat ini maupun yang mulai muncul. Pembaruan Visa Indonesia Security Roadmap memberikan kerangka strategis bagi ekosistem untuk memperkuat pencegahan penipuan, meningkatkan ketahanan siber, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan keamanan generasi berikutnya. Roadmap ini dirancang untuk membantu menjaga ekosistem pembayaran Indonesia tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi masa depan, sehingga konsumen dan pelaku usaha dapat bertransaksi dengan lebih percaya diri di dunia yang semakin digital,” kata Nitia.
Bagi Visa, perkembangan keamanan pembayaran perlu dilakukan secara berkelanjutan karena ancaman terhadap ekosistem digital juga terus mengalami perubahan. Karena itu, pembaruan roadmap tidak hanya berfokus pada risiko yang sudah dikenal, tetapi juga mempersiapkan industri menghadapi ancaman yang berpotensi muncul di masa depan.
Kolaborasi lintas industri menjadi salah satu aspek utama dalam pendekatan tersebut. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman dinilai dapat membantu lembaga keuangan, merchant, serta penyedia layanan pembayaran memahami perkembangan risiko dan menentukan langkah mitigasi yang relevan.
Visa Indonesia Risk Forum juga menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi antar pelaku industri. Melalui forum tersebut, berbagai pihak dapat membahas tantangan keamanan berdasarkan pengalaman dan perkembangan yang terjadi di pasar.
Pada akhirnya, keamanan pembayaran digital berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan konsumen dan pelaku usaha. Sistem yang aman dan tangguh menjadi salah satu prasyarat agar transaksi digital dapat terus berkembang seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Pembaruan Visa Indonesia Security Roadmap menempatkan pencegahan penipuan, autentikasi, ketahanan siber, integritas sistem, serta kesiapan menghadapi risiko teknologi masa depan sebagai agenda bersama. Lima prioritas tersebut menjadi kerangka yang ditawarkan Visa untuk membantu ekosistem pembayaran menghadapi perubahan ancaman.
Melalui kolaborasi dengan lembaga keuangan, merchant, regulator, dan penyedia layanan pembayaran, Visa mendorong penguatan perlindungan konsumen sekaligus ketahanan sistem. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga agar ekosistem pembayaran Indonesia dapat terus berkembang dengan fondasi keamanan dan kepercayaan yang lebih kuat.

































