Begitu juga dengan seri sukuk lainnya bertenor 6 bulan menerima penawaran yang lebih rendah menjadi Rp3,89 triliun dari posisi lelang sebelumnya Rp5,45 triliun.
Sebaliknya, pada seri-seri tenor panjang penawaran yang masuk justru naik. Seperti, tenor 12 tahun untuk seri PBS034, melonjak dari Rp2,21 triliun jadi Rp4,21 triliun. Artinya, incoming bids naik signifikan sebesar Rp1,996 triliun setara dengan 90,27%.
Kenaikan permintaan pada seri ini diikuti peningkatan nominal yang dimenangkan pemerintah, dari Rp1,55 triliun jadi Rp2,15 triliun. Namun, yield juga ikut merangkak naik dari 7,13% jadi 7,15%.
Hal serupa terjadi pada sukuk tenor 23 tahun. Incoming bids naik dari Rp2,21 triliun jadi Rp2,98 triliun, naik Rp770 miliar atau 34,79%. Yield tenor ini juga meningkat dari 7,15% jadi 7,18%. Pemerintah juga ikut menaikkan nominal yang dimenangkan dari Rp1,05 triliun jadi Rp1,55 triliun.
Naiknya yield pada seri bertenor panjang yang sebenarnya diminati pelaku pasar menggambarkan bahwa, di era suku bunga tinggi kenaikan permintaan tidak otomatis menurunkan yield.
Sehingga, meski permintaan pulih, tenor panjang masih diganjar mahal oleh investor. Selain itu, sukuk dengan tenor panjang umumnya lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi inflasi, suku bunga global, dan risiko fiskal dibandingkan sukuk bertenor pendek.
Sebagai catatan, yield US Treasury tenor 10 tahun pada saat lelang berlangsung memang sedikit terpangkas, namun masih bertahan di level 4,95%. Alhasil, investor masih meminta kompensasi lebih tinggi untuk mengambil risiko durasi di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Berikut hasil lelang sukuk kemarin:
(dsp/aji)



























