Sejumlah saham berkapitalisasi besar, atau saham–saham big caps menjadi pemberat pelemahan IHSG di samping sentimen fundamental perekonomian dalam negeri.
Saham–saham energi, saham perindustrian, dan saham properti mencatatkan penurunan terdalam, dengan melemah 2,75%, 2,31%, dan 2%.
Tergelincirnya IHSG di zona merah merupakan efek secara langsung dari melemahnya sejumlah saham big caps. Berikut deretan saham top laggards, Selasa (22/9/2026), berdasarkan data Bloomberg.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menekan 20,89 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 17,61 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menekan 3,88 poin
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menekan 3,85 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 3,74 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menekan 3,28 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menekan 2,95 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menekan 2,78 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menekan 2,72 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan 2,62 poin
Phintraco Sekuritas memaparkan, IHSG ditutup melemah 1,69% di posisi 6.277 pada perdagangan hari ini, Selasa (22/9/2026), seiring investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, yang diestimasikan masih akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75%.
Sementara itu nilai tukar rupiah yang ditutup melemah 0,19% di level Rp17.872/US$, jadi sentimen pemberat tambahan.
Perhatian investor amat tertuju dan berfokus ke Thamrin di mana kantor pusat Bank Indonesia (BI) berada, setelah menggelar pertemuan sedari siang tadi, dan akan mengumumkan hasil RDG pada esok hari, Rabu (23/9/2026).
Yang jadi perhatian, rapat ini merupakan RDG perdana setelah bank–bank sentral negara utama seperti Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengambil langkah hawkish dan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4%. Seiringan dengan bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB), yang mengerek suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 2,5%. Hal yang sama juga ditempuh bank sentral Jepang (BoJ).
Rapat Dewan Gubernur BI yang telah digelar sejak Selasa–Rabu, 22–23 September 2026 dan diagendakan mengumumkan keputusan esok siang, diprediksi akan menghasilkan vonis tahan, hold, untuk BI Rate tetap di level 5,75%.
Mengacu konsensus yang dihelat oleh Bloomberg hingga hari ini, sebanyak 36 ekonom/ analis yang disurvei, mengestimasikan BI Rate akan dipertahankan tetap di level 5,75%.
Konsensus ini sejalan dengan proyeksi Bloomberg Economics yang menilai kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 bps pada Mei–Juni yang lalu telah cukup mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia, biarpun perang AS-Iran semakin intensif, harga minyak global meningkat dan imbal hasil obligasi AS naik.
“Rupiah menguat terhadap dolar AS sejak akhir Juli hingga pertengahan September dan mencatat kinerja yang lebih baik dibanding mata uang negara berkembang lainnya,” papar Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, mengutip Selasa (22/9/2026).
Namun yang menjadi perhatian utama saat ini, 3 orang ekonom memprediksi adanya kenaikan 25 basis poin menjadi 6%. Salah satu ekonom yang memperkirakan BI Rate akan naik adalah David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Ia memproyeksikan BI rate akan naik 25 bps lantaran tekanan terhadap rupiah kembali meningkat. “Bank sentral global seperti The Fed dan BoJ juga menaikkan suku bunga sehingga memberikan tekanan pada kurs mata uang emerging market seperti Indonesia,” tutur David kepada Bloomberg Technoz.
David menambah, sampai tutup tahun nanti BI Rate diperkirakan masih ada peluang naik 25-50 bps seiring dengan ekspektasi kenaikan Fed Rate sekali lagi pada Desember.
Menelisik lebih jauh, sepanjang September ini, pergerakan rupiah memang terbilang volatil dengan pelemahan 0,85%, month–to–date (mtd) hingga Selasa (22/9/2026) hari ini.
Terlebih jika dibanding dengan tren pelemahan yang terjadi pada mata uang regional, penurunan nilai tukar rupiah terbilang amat lesu daripada mata uang lainnya, ada di posisi dua terendah yang hanya bersanding dengan ringgit Malaysia yang melemah 1% mtd. Bahkan jika disanding dengan data year–to–date (ytd) nilai tukar rupiah amat tertinggal jauh dengan tren pelemahan mencapai 6,61%.
(fad)




























