Logo Bloomberg Technoz

Padahal, bank sentral negara utama seperti Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), mengambil langkah hawkish dan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 3,75-4%. Begitu juga dengan bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB), yang mengerek suku bunga 25 bps menjadi 2,5%. Hal serupa ditempuh bank sentral Jepang (BoJ).

Namun, kekhawatiran terhadap rupiah tak cuma datang tingginya suku bunga negara utama tetapi juga harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Salah satu masalah domestik dengan tingginya harga minyak adalah kondisi fundamental eksternal Indonesia yang berpotensi menghadapi tekanan. Defisit transaksi berjalan yang melebar di kuartal II-2026 jadi sinyal bahwa kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan impor dan valuta asing. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menyebut risiko defisit transaksi berjalan menjadi sekitar 1,9-2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Ia menilai, besarnya defisit ini akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia dalam mempertahankan surplus perdagangan pada paruh kedua 2026. Jika surplus perdagangan tidak cukup besar untuk menutup kebutuhan impor dan pembayaran ke luar negeri, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin meningkat.

(dsp/aji)

No more pages