Rupiah memang sempat menikmati penguatan sekitar 1,5% sejak awal Agustus, tapi agaknya momentum itu mulai kehilangan tenaga.
Salah satu masalah domestik adalah fundamental eksternal Indonesia yang masih menghadapi tekanan. Defisit transaksi berjalan yang melebar di kuartal II-2026 jadi sinyal bahwa kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan impor dan valuta asing.
Dalam kondisi terpangkasnya harga energi seperti hari ini, seharusnya memberi ruang bagi rupiah untuk bertahan. Tapi, sentimen ini sepertinya belum mampu mengangkat rupiah, ketika mata uang regional justru menguat. Ini mengindikasikan investor masih bersikap waspada terhadap pasar domestik.
Terlebih, menurut Goldman Sachs Group Inc. pasokan semakin ketat di pasar bahan bakar global, dan berpotensi tertekan. Bahkan, di AS, harga kontrak berjangka solar ditutup di level tertinggi.
Begitu juga rata-rata harga eceran bahan bakar tersebut melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa, karena kenaikan harga produk jadi jauh melampaui kenaikan harga minyak mentah.
Di saat yang sama, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan yield obligasi pemerintah AS, US Treasury, hampir menyentuh 5% untuk tenor acuan 10 tahun, dan membuat aset dolar jadi lebih menarik.
Meski ada tekanan eksternal ini, ruang BI menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama untuk menopang rupiah tetap terbatas. Sebab, kenaikan suku bunga justri berisiko menekan pertumbuhan ekonomi domestik.
Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan moneter BI pada Rabu dan bagaimana bank sentral RI ini mengombinasikan suku bunga yang diperkirakan ditahan, intervensi valuta asing, pengelolaan likuiditas, juga instrumen lindung nilai untuk menjaga stabilitas rupiah, tanpa memberi tekanan berlebih pada perekonomian yang sedang lesu.
(riset)






























