Logo Bloomberg Technoz

Direktur Utama AMMN Arief Sidarto mengatakan torehan laba kali ini ditopang oleh produksi tembaga dan emas masing-masing meningkat 136% menjadi 211 juta pon dan 481% menjadi 346.354 ons.

“Sepanjang semester pertama 2026, kami terus meningkatkan kapasitas produksi smelter dan PMR sembari menstabilkan operasi,” kata Arief lewat siaran pers, Senin (21/9/2026).

Dari sisi penjualan, Glencore menjadi pembeli terbesar AMMN dengan kontribusi mencapai 61,1% dari total penjualan atau sebesar US$1,25 miliar.

Selain Glencore, penjualan kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencapai 15,1% atau US$310,11 juta dan PT Marubeni Indonesia sebesar 11,3% atau US$231,85 juta.

Secara produk, penjualan domestik AMMN berasal dari katoda tembaga sebesar US$430,71 juta dan emas murni US$311,06 juta.

Sementara penjualan ekspor mencapai US$1,31 miliar, yang terdiri dari penjualan konsentrat tembaga dan emas serta katoda tembaga.

“Kinerja keuangan semester I-2026 mencerminkan perbaikan kinerja operasional, volume penjualan yang lebih tinggi, serta harga jual logam yang lebih kuat,” kata Arief.

Meski mencatat pertumbuhan laba, beban keuangan AMMN meningkat menjadi US$255,70 juta pada semester I-2026 dari US$167,63 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, laba sebelum pajak tetap mencapai US$695,08 juta, berbalik dari rugi US$191,54 juta.

Dari neraca, total liabilitas AMMN turun menjadi US$7,94 miliar per 30 Juni 2026 dari US$8,44 miliar pada akhir 2025.

Penurunan tersebut antara lain terlihat pada pinjaman bank jangka panjang bersih yang turun menjadi US$5,65 miliar dari US$5,88 miliar.

Sementara itu, total aset tercatat US$13,80 miliar, relatif turun dari US$13,87 miliar pada akhir 2025. Adapun total ekuitas meningkat menjadi US$5,86 miliar dari US$5,43 miliar.

(fik/naw)

No more pages