Hal ini dapat menimbulkan masalah bagi investor yang mendasarkan ekspektasi imbal hasil pada model historis, serta bagi operator jaringan listrik yang semakin bergantung pada pasokan energi yang fluktuatif dari sumber terbarukan.
"Musim panas 2026 telah menunjukkan sejauh mana kondisi sumber daya tenaga surya dapat menyimpang dari rata-rata historis di berbagai pasar utama," kata Marcel Suri, CEO Solargis, dalam laporan tersebut.
Menurut Solargis, variasi yang lebih luas ini tidak begitu banyak melemahkan argumen investasi untuk energi terbarukan, melainkan menyoroti perlunya data cuaca yang lebih rinci untuk memitigasi risiko dan menjaga keseimbangan jaringan listrik.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perusahaan hedge fund, mulai dari Jane Street Group LLC hingga Millennium Management LLC, telah merekrut para ahli cuaca.
Intensitas sinar matahari dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi, mulai dari tutupan awan dan hujan muson hingga kabut asap dan kebakaran hutan.
Di Eropa Barat, yang mengalami salah satu musim panas terpanas dan terkering dalam catatan sejarah, wilayah seperti Inggris selatan dan Prancis barat mencatat intensitas sinar matahari lebih dari 20% di atas normal, menurut laporan tersebut.
Malaysia, Indonesia, dan Filipina selatan semuanya mengalami intensitas sinar matahari 30% di atas tingkat historis.
Brasil selatan, Argentina utara, dan Uruguay mengalami intensitas sinar matahari lebih dari 20% di bawah tingkat rata-rata, menurut laporan tersebut. Eropa Utara juga mengalami defisit hingga 25% di bawah rata-rata akibat curah hujan yang di atas rata-rata.
Di India, negara-negara bagian di wilayah timur yang sangat terdampak oleh hujan monsun mengalami tingkat sinar matahari hingga 20% di bawah rata-rata, ungkap Solargis.
Beruntungnya bagi negara tersebut, wilayah barat dan utara—di mana sebagian besar proyek tenaga surya berada—mendapatkan sinar matahari yang setara dengan rata-rata atau bahkan lebih baik.
(bbn)































