Target ini dapat tercapai jika penyusunan rencana pengembangan lapangan atau plan of development (PoD), analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), perancangan teknik awal atau front-end engineering design (FEED), hingga tahap rekayasa, pengadaan, konstruksi, serta instalasi atau engineering, procurement, construction, and installation (EPCI) telah dipenuhi terlebih dahulu.
Sementara itu, struktur AL yang memiliki kondisi geologi lebih kompleks diperkirakan memerlukan waktu pengembangan yang lebih lama, yakni lebih dari 10 tahun.
“Pengembangan struktur AL dapat diselesaikan dan memberikan kontribusi bagi produksi migas nasional pada 2036—2037, ini kalau jalur cepat,” tambahnya.
Hadi juga memberi catatan, struktur AL memiliki sumber daya gas mula-mula di dalam reservoir atau original gas in place (OGIP) sebesar 222 triliun kaki kubik atau trillion cubic feet (TCF) dengan kandungan karbon dioksida (CO₂) mencapai 72%.
Setelah melalui proses pemisahan CO₂ dan dengan asumsi tingkat pengurasan atau recovery factor (RF) sebesar 75%, potensi gas bersih yang dapat dimanfaatkan berkisar 46 TCF.
Pengembangan struktur AL dikategorikan sangat sulit karena berada di lepas pantai (offshore) dan memiliki kandungan CO₂ yang sangat tinggi.
Di sisi lain, struktur AP memiliki sumber daya OGIP sebesar 3,6 TCF dengan kandungan CO₂ sebesar 45% dan tergolong sebagai pengembangan lepas pantai dengan tingkat risiko sedang.
Indonesia dinilai sudah memiliki banyak pengalaman dalam mengelola kandungan CO₂ pada tingkat tersebut sehingga pengembangannya tidak menjadi hambatan besar selama alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tersedia.
Selain gas, struktur AP memiliki zona minyak (oil column) dengan sumber daya minyak bumi mula-mula di dalam reservoir atau original oil in place (OOIP) sebesar 400 juta barel minyak atau million barrels of oil (MMBO).
“Apabila asumsi tingkat pengurasan sebesar 15% diterapkan, struktur ini berpotensi menghasilkan cadangan minyak sekitar 60 MMBO,” jelas Hadi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan PT Nations Petroleum sebagai pemenang lelang Blok Natuna D-Alpha; blok yang memiliki potensi kandungan gas mencapai 222 TCF dan digadang-gadang sebagai salah satu yang terbesar di dunia itu.
Perusahaan tersebut memenangkan lelang dengan bonus tanda tangan sebesar US$200.000 dan total komitmen pasti sebesar US$103,309 juta untuk tiga tahun pertama masa eksplorasi.
Perusahaan swasta di bidang minyak dan gas bumi tersebut diketahui merupakan bagian dari Arsari Group, kelompok usaha milik Hashim Djojohadikusumo, adik dari Presiden Prabowo Subianto.
(smr/wdh)





























