Logo Bloomberg Technoz

“Bensin kini menjadi titik paling rawan dalam impor BBM kita. Pada 2025, nilai impor bensin mencapai sekitar US$10,8 miliar, jauh lebih besar dari impor solar US$3,4 miliar. Jadi ketika kilang di Asia memangkas ekspor, Indonesia yang paling terpapar justru pada bensin,” kata Yayan ketika dihubungi, Senin (21/9/2026).

Keputusan Sulit

Lebih lanjut, Yayan memandang kondisi tersebut bakal membuat pemerintah mengambil keputusan sulit, terutama dalam menentukan kebijakan menahan atau menaikkan harga BBM.

Dia menyatakan jika selisih atau spread harga antara Pertalite dan Pertamax terlalu lebar karena harga bensin RON 92 dilepas sepenuhnya ke mekanisme pasar, migrasi masyarakat mampu ke konsumsi Pertalite akan menjadi keniscayaan. Tak pelak, kuota subsidi bisa cepat terkuras dan memberatkan anggaran.

Sebaliknya, jika harga Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite dinaikkan secara langsung, Yayan menilai, beban anggaran dapat diringankan tetapi rumah tangga miskin dan rentan bakal sangat tertekan.

Dia menyatakan kondisi tersebut sudah terbukti terjadi ketika harga Pertamax naik dari Rp7.650/liter ke Rp10.000/liter pada September 2022.

“Karena Pertalite adalah bahan bakar rakyat banyak, kenaikan mendadak langsung mendorong inflasi dan memukul rumah tangga miskin serta rentan seperti pengalaman September 2022, saat Pertalite naik 31% dan inflasi sempat menembus hampir 6%,” tegasnya.

Untuk itu, dia menyarankan pemerintah untuk melakukan sejumlah langkah. Misalnya; menutup kebocoran BBM bersubsidi, mengumumkan penyesuaian harga BBM secara jelas, lakukan penghematan anggaran, serta memperkuat cadangan penyangga.

“Krisis BBM dunia yang bergeser ke bensin adalah ujian nyata bagi tata kelola BBM kita. Menaikkan Pertalite atau melebarkan jarak harga, bila dilakukan sendiri-sendiri dan mendadak, sama-sama menimbulkan mudarat entah membengkaknya subsidi entah beratnya beban rakyat,” ungkap dia.

Untuk diketahui, harga bensin diperkirakan terus menguat seiring dengan meluasnya kondisi pasokan yang ketat di pasar bahan bakar global, menurut Goldman Sachs Group Inc.

Goldman juga mengubah rekomendasi perdagangannya dari solar ke bensin, yang notabene adalah bahan bakar kendaraan populer tersebut.

"Alasan utama di balik rekomendasi baru ini adalah langkah kilang minyak yang mengalihkan produksi dari bensin ke solar, sehingga memperketat pasokan di pasar bensin dengan cepat," ungkap para analis, termasuk Yulia Zhestkova Grigsby dan Daan Struyven, dalam sebuah catatan.

Pasar bahan bakar global mengalami tekanan tahun ini akibat dampak gabungan dari konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta perang antara Rusia dan Ukraina, di mana Kyiv terus menggempur kilang-kilang minyak Moskwa.

Di AS, harga kontrak berjangka solar telah ditutup pada rekor tertinggi, dan rata-rata harga eceran bahan bakar tersebut melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa, karena kenaikan harga produk jadi jauh melampaui kenaikan harga minyak mentah.

Meskipun harga solar mungkin masih bisa naik lebih lanjut, bensin kini menawarkan "peluang kenaikan harga yang lebih besar," kata para analis dalam laporan tertanggal 16 September tersebut, dengan alasan antara lain permintaan yang lebih tangguh dan perubahan relatif pada tingkat persediaan.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kiloliter (kl) solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini. Sementara solar CN 48 atau kualitas rendah, diklaim tak lagi diimpor Indonesia.

Selain itu, pada 2026 Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.

"Catatan: pada 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600.000 kl solar CN51, 1 juta kl avtur, dan 3,6 juta kl produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98,'' sebagaimana tertulis dalam materi paparan Yuliot di EBTKE Connect, Rabu (2/9/2026).

Sepanjang tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi kebutuhan bensin nasional mencapai 38,1 juta kl. Dari besaran tersebut, sekitar 23,83 juta kl didapatkan dari hasil impor dan 14,27 juta kl dari produksi domestik.

Berdasarkan data Kementerian ESDM per Juni 2025, sepanjang Januari—Juni 2026 impor bensin Indonesia mencapai 61,73% dari kebutuhan nasional.

Kementerian ESDM mencatat sekitar 62% impor BBM Indonesia berasal dari Singapura, kemudian 35% impor BBM berasal dari Malaysia, sementara sisanya sebagian besar dari negara Asean.

(wdh)

No more pages