Perang tersebut memengaruhi perilaku konsumen karena pelanggan cenderung memesan penerbangan lebih dekat dengan waktu keberangkatan dibandingkan biasanya, kata sang CEO. Bagi banyak maskapai, kenaikan biaya bahan bakar juga memaksa mereka mengurangi kapasitas dengan memangkas sejumlah penerbangan untuk menghemat kas.
“Kami melihat rute-rute yang ada dan bertanya, mana rute yang paling menguntungkan? Rute yang kurang menguntungkan kami hentikan atau jeda,” ujarnya.
Namun, permintaan masih “cukup kuat” seiring meredanya peringatan perjalanan dan tingkat keterisian kursi tetap tinggi. Meski demikian, jumlah pelancong yang melintasi kawasan Timur Tengah masih relatif rendah, katanya.
Qatar Airways pekan lalu mengumumkan telah kembali mengoperasikan jumlah rute yang sama seperti sebelum perang untuk pertama kalinya. Maskapai tetangganya, Emirates, juga mengatakan telah memulihkan hampir seluruh jaringan rute dan kapasitas penerbangannya.
Al-Khater menggemakan pernyataan CEO Etihad Airways yang berbasis di Abu Dhabi mengenai pengalihan kenaikan harga bahan bakar kepada pelanggan. Dia menyebut fokus maskapai saat ini adalah pada kapasitas, bukan pangsa pasar.
Kelebihan pasokan minyak mentah global pada awal tahun memungkinkan Qatar mengimbangi sebagian dampak kenaikan harga bahan bakar jet, kata Al-Khater. Meski demikian, “bahan bakar jelas menjadi salah satu hal yang terus kami pantau secara ketat,” ujarnya.
(bbn)





























