Realisasi defisit terjadi akibat total pendapatan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara sampai dengan delapan bulan pertama tahun ini.
Investor juga tengah mencermati dan bersikap wait–and–see antisipasi rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) pada pertemuan minggu depan. Saat ini, BI Rate berada di level 5,75%, telah meningkat 100bps sepanjang tahun ini.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp19,25 triliun dari sejumlah 32,6 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi yang terjadi 1,91 juta kali jual–beli.
Tercatat masih ada penguatan 204 saham, dan sebanyak–banyaknya 442 saham terjadi pelemahan. Sisanya 144 saham stagnan.
Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan siang ini, pelemahan saham AMMN, saham DSSA, hingga saham BUMI. Diperberat lagi oleh saham–saham perindustrian, saham properti, dan saham kesehatan melemah paling dalam, dengan masing–masing minus 1,63%, 1,44% dan juga 1,11%.
Saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga menempati top losers:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 9,31 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 7,38 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengurangi 5,17 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 5,08 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 4,43 poin
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengurangi 3,32 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 3,27 poin
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengurangi 2,98 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 2,93 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 2,78 poin
Terlebih lagi nilai tukar rupiah yang pada perdagangan minggu ini lanjut melemah turut jadi pemicu IHSG tergelincir di zona merah. Mengacu data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,8% point–to–point di pasar spot di posisi Rp17.742/US$.
Jika rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan minggu depan, support menarik dicermati pada level Rp17.780/US$ hingga Rp17.800/US$ secara potensial menahan rupiah.
Sebab harga minyak yang masih berada di atas kisaran target asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus membayangi kondisi fiskal Indonesia. Ini menjadi faktor pemberat laju rupiah.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga dihadang oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat mencapai level 100,37 pada pukul 17:00 WIB, berdasarkan data Bloomberg. Kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) meningkatkan daya tarik aset dolar AS dan membuat investor cenderung selektif terhadap aset negara berkembang.
(fad/wep)



























