Logo Bloomberg Technoz

“Sentimen pasar terdorong, salah satunya karena harga minyak mentah turun untuk hari kedua sehingga mengurangi tekanan terhadap imbal hasil obligasi,” kata Fawad Razaqzada dari Forex.com. “Kemarin, The Fed cukup hawkish, dan kami melihat reaksi yang muncul di pasar valuta asing serta pasar saham sesuai dengan perkiraan.”

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, ditutup di bawah US$105 per barel. Arab Saudi berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas pipa East-West yang penting bagi negara tersebut dalam beberapa hari, setelah pipa itu ditutup pada pekan lalu akibat serangan drone. Perkembangan ini meredakan sebagian kekhawatiran mengenai potensi penurunan pasokan lebih lanjut akibat konflik Iran.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa China meminta Iran membantu mengendalikan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran. Langkah tersebut berpotensi mengurangi gangguan di sekitar Bab el-Mandeb, salah satu selat penting bagi pelayaran global dan pasar energi.

Meski demikian, pasokan masih terbatas sehingga memberikan dukungan terhadap harga, menurut Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group. Risiko juga masih tinggi karena perang AS-Iran mengganggu arus energi di Timur Tengah, sementara konflik Rusia-Ukraina terus berlangsung.

Obligasi pemerintah Inggris juga menguat setelah Bank of England membatalkan rencana penjualan obligasi pemerintah berjangka panjang sebagai bagian dari program pengetatan kuantitatif. Keputusan tersebut memberikan kelegaan bagi pasar yang sebelumnya tertekan, ketika imbal hasil obligasi bertenor 10 dan 30 tahun mencapai level tertinggi masing-masing sejak 2007 dan 1998.

Sementara itu, yen bergerak relatif stabil di level 156 per dolar AS menjelang keputusan kebijakan BOJ pada Jumat. Seluruh responden dalam survei Bloomberg memperkirakan bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% dari 1%. Pergerakan yen akan menjadi perhatian setelah mata uang tersebut merosot tajam menyusul kenaikan suku bunga The Fed yang hawkish. Sejumlah strategi pasar memperingatkan bahwa yen dapat kembali melemah jika para pejabat BOJ gagal meyakinkan pasar bahwa pengetatan kebijakan lebih lanjut akan dilakukan.

“Jepang tentu menghadapi tekanan yang sangat besar untuk menaikkan suku bunga sekaligus menyampaikan pesan hawkish guna meminimalkan dampaknya,” kata Glenn Yin, direktur riset di ACCM, Melbourne. Jika BOJ mengecewakan pasar, “risiko yen menembus level 160 dalam waktu dekat tidak bisa diabaikan.”

(bbn)

No more pages