"Potensi dampaknya—tidak hanya terhadap hubungan bilateral tetapi juga pasar energi internasional—telah disampaikan dengan sangat jelas oleh pihak India," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri India.
Hubungan AS-India sempat menegang selama setahun terakhir akibat ketegangan terkait tarif dan klaim Trump bahwa ia turut menengahi penghentian konflik antara India dan Pakistan.
Meskipun kedua belah pihak telah berupaya memperbaiki hubungan—termasuk dengan melonggarkan tarif atas barang-barang India—mereka belum berhasil merampungkan kesepakatan perdagangan.
Langkah terbaru AS ini menyasar lima pembeli terbesar minyak atau gas alam Rusia, yang berpotensi membuat India, China, dan sekutu AS, Turki, terkena pungutan baru.
Saat ini, India merupakan pembeli terbesar minyak mentah Rusia yang dikirim melalui jalur laut. Namun, perusahaan kilang minyaknya telah mulai beralih ke AS, Brasil, Kanada, Venezuela, dan Afrika untuk mendapatkan pasokan tambahan yang lebih beragam
Kendati demikian, menurut laporan Bloomberg News, perusahaan kilang milik negara India menghadapi ketidakpastian pasokan yang paling signifikan dalam beberapa bulan terakhir, karena dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah diperparah oleh kemungkinan pengetatan pembatasan AS terhadap pembelian dari Rusia.
"Pihak India juga telah menegaskan tekadnya untuk mengambil segala langkah yang diperlukan guna melindungi kepentingan perdagangan dan ekonominya," tambah pernyataan New Delhi tersebut.
"India tetap berkomitmen teguh untuk menjamin ketahanan energi bagi 1,4 miliar penduduknya."
(bbn)































