Dari Amerika Serikat (AS), pelaku pasar semakin bulat memperkirakan bank sentral Federal Reserve akan mengerek suku bunga acuan, yang akan diumumkan pada pertemuan Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia. Mengacu pada FedWatch, 100% pelaku pasar sepakat bahwa The Fed akan mengerek suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) ke 3,75-4%.
Bahkan yield obligasi AS, US Treasury tenor 10 tahun sempat naik ke level 5%, posisi tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini dipicu oleh respons pasar yang bersiap menghadapi kenaikan suku bunga acuan.
Ekspektasi pengetatan itu disebabkan oleh kekhawatiran terhadap inflasi. Lonjakan harga minyak, membuat tanda-tanda inflasi kembali muncul. Selain itu, kekhawatiran soal anggaran pemerintah AS juga memperkuat ekspektasi itu.
“Banyak orang terdampak oleh kenaikan harga secara kumulatif. Standar hidup telah menurun, dan saya pikir The Fed harus serius dalam menjalankan mandat stabilitas harga,” kata Jason Thomas, Kepala Riset Global dan Strategi Investasi Carlyle, seperti dikutip Bloomberg News.
Tekanan itu sejatinya tak berhenti di pasar obligasi AS. Kenaikan yield US Treasury dan menguatnya ekspektasi suku bunga The Fed berpotensi merambat ke pasar valuta asing, terutama mata uang Asia.
Mengacu data Bloomberg, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama berada di 99,65. Dolar AS yang lebih kuat ini membuat mata uang kawasan menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar untuk membayar impor energi, termasuk Indonesia, yang menjadi importir.
Di sisi lain, yield aset AS yang lebih tinggi semakin membuat daya tarik aset berdenominasi dolar AS lebih atraktif. Hal ini berpotensi mendorong investor mengurangi eksposur pada aset pasar berkembang.
Bagi rupiah tekanan ini menjadi ganda, ketika imbal hasil aset AS meningkat, padahal di saat yang sama harga minyak memperbesar tekanan eksternal.
Sebagai catatan, permintaan dalam lelang surat utang mengalami penurunan. Total penawaran yang masuk turun 7,58% setara dengan Rp4,99 triliun menjadi Rp60,96 triliun dari lelang sebelumnya Rp65,96 triliun.
Sementara, kenaikan yield di pasar obligasi AS juga ikut mengerek yield di pasar domestik. Yield tenor acuan 10 tahun sempat naik ke posisi 7,17%, kemarin.
Gelombang hawkish yang datang dari bank sentral negara lain berpotensi mengubah kalkulasi Bank Indonesia (BI) yang pekan depan akan menentukan sikap moneter. Di tengah tekanan ini, rupiah berpotensi terdepresiasi dan bergerak di rentang Rp17.650-17.750/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih berisiko melanjutkan pelemahan. Target pelemahan menuju level Rp17.700/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua harus tertahan di Rp17.750/US$ yang berada tepat di sMA-100.
Apabila kembali menjebol kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah bisa saja melemah leboh lanjut menuju level pesimistis Rp17.800/US$ sebagai support terkuatnya.
Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat hari ini, maka resistance yang menarik dicermati ada di level Rp17.640/US$ dan selanjutnya berpotensi ke arah Rp17.600/US$.
- Dengan asistensi M Julian Fadli -
(riset/aji)

























