Sementara jangkauan genangan terjauh mencapai 145 meter di Nampar Sepang, 136 meter di Desa Selama, dan 60 meter di Tadho.
Tsunami tersebut merusak 23 rumah, termasuk dua rumah yang tersapu gelombang di Desa Selama. Meski menimbulkan kerusakan, tidak ada korban jiwa karena masyarakat segera melakukan evakuasi setelah menerima Peringatan Dini Tsunami.
"Sebaik-baiknya peringatan dini adalah kesadaran masyarakat untuk merespons potensi tsunami. Maka, penting untuk membangun kesadaran masyarakat di wilayah pesisir utara NTT untuk melakukan evakuasi mandiri," ujar Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi MKG BMKG Rahmat Triyono.
Rahmat mengatakan waktu kedatangan tsunami dapat berlangsung sangat cepat, khususnya di wilayah Flores Back-Arc Thrust. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting, terutama ketika waktu antara peringatan dini dan kedatangan gelombang sangat singkat.
Selain itu, BMKG mencatat kenaikan muka air laut melalui 16 stasiun tsunami gauge di NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Kenaikan tercatat di Reo sebesar 1,61 meter, Pota 1,60 meter, Sape 0,56 meter, Bulukumba 0,54 meter, dan Selayar 0,40 meter.
BMKG juga menemukan guncangan maksimum VII MMI serta indikasi likuefaksi berupa sand boil di Nagekeo.
"Seluruh data pemantauan dan hasil survei ini menjadi masukan teknis penting bagi pemerintah dalam merealisasikan rehabilitasi dan rekonstruksi secara aman dan berkelanjutan," kata Teguh.
BMKG memastikan pemantauan aktivitas kegempaan terus dilakukan selama 24 jam dan mengimbau masyarakat agar mengikuti informasi resmi dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
(dec/ros)




























