Berdasarkan Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21% pada 2023. Pada tahun yang sama, kepemilikan telepon seluler mencapai 68,65%.
Angka tersebut menunjukkan semakin besarnya peran perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama perangkat tidak selalu berarti semakin produktif.
“Ya jadi kadang-kadang dengan kemudahannya teknologi untuk saat ini, di sela-sela pekerjaan suka aja ada kecenderungan untuk buka tab baru gitu untuk akses social media yang diluar hubungan dengan pekerjaan,” ujar Damar.
Kala Satu Perangkat Memiliki Dua Fungsi
Perubahan teknologi dalam tiga dekade terakhir membuat perangkat yang digunakan masyarakat semakin multifungsi.
Ponsel yang dahulu terutama digunakan untuk melakukan panggilan dan mengirim pesan kini berubah menjadi pusat aktivitas digital. Smartphone dapat digunakan untuk bekerja, melakukan transaksi, mengakses layanan publik, mencari informasi, menonton video, bermain game, hingga berinteraksi di media sosial.
Laptop juga mengalami perubahan fungsi. Perangkat yang sebelumnya identik dengan pekerjaan kini menjadi sarana hiburan, komunikasi, pendidikan, dan konsumsi konten. Batas antara waktu produktif dan waktu hiburan pun semakin tipis.
Menurut Bagus M. Fatah Kertarajasa, peneliti yang mengkaji distraksi teknologi digital dan produktivitas kerja, teknologi memang membantu produktivitas melalui komunikasi yang lebih cepat, akses informasi, kolaborasi, dan fleksibilitas. Namun, teknologi tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih produktif.
“Untuk riset saya tidak secara khusus menghitung besarnya peningkatan produktivitas yang dihasilkan teknologi. Tetapi riset ini berfokus pada sisi lain penggunaan teknologi, yaitu ketika teknologi menimbulkan distraksi. Oleh karena itu menurut saya teknologi tidak otomatis meningkatkan produktivitas. Manfaatnya balik lagi bergantung pada apakah teknologi membantu pekerjaan atau justru menambah gangguan dan beban informasi,” ujar Bagus.
Menurutnya, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak teknologi digunakan. Efektivitas, efisiensi, kualitas pekerjaan, kedisiplinan, ketepatan waktu, hingga kemampuan menghasilkan kreativitas dan inovasi juga menjadi ukurannya.
Persoalannya, distraksi digital tidak selalu muncul dalam bentuk hiburan. Bagus membaginya menjadi gangguan eksternal seperti notifikasi, suara, getaran, dan pop-up; gangguan kognitif akibat kebiasaan berpindah aplikasi; serta gangguan perilaku berupa kebiasaan mengecek perangkat secara kompulsif.
Notifikasi dapat memutus perhatian yang sedang diarahkan pada pekerjaan. Ketika seseorang berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, pengguna perlu menghentikan pemrosesan tugas sebelumnya, memahami tugas baru, kemudian mengingat kembali konteks pekerjaan yang ditinggalkan.
Kondisi tersebut dikenal sebagai switching cost dan attention residue. Ada pula resumption lag, yakni jeda yang dibutuhkan seseorang untuk kembali melanjutkan pekerjaan sebelumnya. Dalam kondisi tertentu, literatur yang dikaji Bagus menunjukkan pemulihan fokus dapat membutuhkan sekitar 23 hingga 25 menit.
Dengan demikian, kebiasaan berpindah-pindah aplikasi yang terlihat seperti multitasking belum tentu berarti seseorang mengerjakan banyak hal secara bersamaan.
“Menurut saya multitasking digital tidak selalu membuat seseorang lebih produktif. In case banyak kondisi, yang sebenarnya terjadi bukan mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan, melainkan melakukan perpindahan perhatian secara cepat dari satu tugas ke tugas lainnya atau task switching,” ujar Bagus.
Produktivitas di Ujung Jari
Di sisi lain, sulit membantah manfaat teknologi bagi masyarakat urban. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan perpindahan tempat kini dapat dilakukan dari mana saja. Dokumen dapat disimpan di cloud, rapat dilakukan secara daring, dan komunikasi dengan rekan kerja berlangsung secara real time.
Bagi Damar, perangkat digital yang sama juga membantu aktivitas lain yang ditekuninya dalam enam bulan terakhir, yakni olahraga lari. Setelah sebelumnya rutin bersepeda, ia kini menggunakan smartphone dan smartwatch untuk membantu aktivitas tersebut.
Smartwatch memberinya sejumlah indikator seperti detak jantung, pace, dan skor tidur. Data tersebut digunakan untuk menentukan kapan harus mempercepat, memperlambat, atau berhenti saat berlari.
“Smart watch bisa lebih ngatur larinya, karena ada beberapa indikator yang ditampilkan kayak heart rate, pace, sleeping score dan lain-lain. Jadi tau kapan harus cepat, melambat, atau berhenti,” ujar Damar.
Menurutnya, data performa membuat perkembangan aktivitas larinya lebih mudah dipantau. “Sama kaya alasan sebelumnya sebenarnya. Karena ada datanya, jadi gak terlalu asal-asalan walaupun kita bukan atlet,” ujarnya.
Pengalaman serupa terlihat pada Miftahudin Mulfi, 25 tahun, seorang pekerja lepas sekaligus content creator. Ia mengandalkan kamera mirrorless dan smartphone dalam kesehariannya. Di luar kebutuhan komunikasi dan pekerjaan, kedua perangkat tersebut digunakan untuk mengabadikan perjalanan dalam bentuk foto dan video.
Miftahudin membeli kamera mirrorless dengan lensa all-in-one zoom karena membutuhkan perangkat yang ringkas saat traveling, tetapi tetap fleksibel untuk mengambil berbagai jenis gambar tanpa harus sering mengganti lensa.
“Yang pertama pasti fungsi dari gadget itu sendiri. Saya memilih kamera mirrorless yang terkini dan dipadukan dengan lensa all-in-one zoom yang punya focal length sangat luas dalam satu lensa,” kata Miftahudin.
Ia mengatakan keputusan membeli perangkat tidak semata didorong tren. Kebutuhan dan aktivitas yang dijalani menjadi pertimbangan utama. “Kalau memang dibutuhkan dan bisa menunjang hobi saya, baru saya pertimbangkan untuk membeli,” ujarnya.
“Jadi bukan hanya karena mengikuti tren, tapi memang sudah menjadi bagian dari hobi dan cara saya mendokumentasikan setiap perjalanan,” katanya.
Dari Smartphone ke Ekosistem
Pengalaman Damar dan Miftahudin menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap perangkat dapat muncul dari aktivitas yang berbeda. Bagi satu orang, smartwatch membantu mengukur performa olahraga. Bagi orang lain, kamera menjadi bagian dari perjalanan dan hobi.
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada satu perangkat. Masyarakat urban kini semakin terbiasa menggunakan beberapa perangkat sekaligus. Smartphone menjadi pusat komunikasi, laptop untuk bekerja, tablet untuk hiburan atau membaca, earbuds menemani perjalanan, smartwatch memantau aktivitas fisik, dan kamera digunakan untuk mengabadikan pengalaman.
Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi semuanya terhubung dalam satu ekosistem digital. Konsumen pun tidak lagi hanya mempertimbangkan spesifikasi perangkat, tetapi bagaimana teknologi tersebut mendukung aktivitas sehari-hari.
Perubahan itu juga tercermin dalam bisnis ritel teknologi.
Dalam laporan tahunannya, Erajaya menyebut meluasnya tren gaya hidup digital, terutama di kalangan generasi muda yang semakin memanfaatkan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Perusahaan melihat peluang melalui pengembangan produk digital premium serta kategori seperti aksesori elektronik, wearable, dan perangkat lifestyle technology berbasis Internet of Things (IoT).
Pandangan tersebut terlihat pula dalam perkembangan Urban Republic, salah satu bisnis Erajaya Active Lifestyle. Memasuki usia 10 tahun pada 2026, Urban Republic telah berkembang dari tiga toko pada 2016 menjadi 61 toko. Portofolionya mencakup smartphone premium, perangkat audio, smartwatch, gaming hingga smart home.
CEO Erajaya Active Lifestyle Djohan Sutanto mengatakan teknologi kini tidak lagi sekadar perangkat, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kreativitas, produktivitas, dan konektivitas.
Perubahan tersebut tidak berhenti pada bertambahnya kategori perangkat. Dalam laporan tahunannya, Erajaya melihat industri active lifestyle telah berkembang dari sekadar tren kebugaran menjadi ekosistem holistic wellness. Perangkat wearable disebut tidak lagi hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi menjadi bagian dari pengelolaan kesehatan fisik dan mental secara digital.
Tren tersebut berjalan seiring kebutuhan konsumen urban untuk menggabungkan aktivitas olahraga dan profesional. Dengan demikian, perangkat teknologi semakin sulit dipisahkan dari cara masyarakat menjalani kehidupan.
Ketika Produktivitas Menjadi Terlalu Digital
Masalah muncul ketika hampir seluruh aktivitas bergantung pada perangkat yang sama. Pekerjaan membutuhkan smartphone. Hiburan menggunakan smartphone. Komunikasi menggunakan smartphone. Bahkan waktu istirahat dapat dipantau melalui smartphone atau wearable. Akibatnya, batas antara bekerja dan beristirahat menjadi semakin sulit ditentukan.
Dalam penelitiannya, Bagus menemukan bahwa distraksi teknologi berpengaruh positif dan signifikan terhadap beban mental, tetapi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produktivitas. Distraksi perilaku menjadi dimensi yang paling menonjol, dengan nilai rata-rata 3,50 atau 69,33%.
Tanda-tandanya antara lain ketika seseorang lebih sibuk merespons notifikasi daripada menyelesaikan pekerjaan utama, sering berpindah aplikasi, merasa harus selalu online, mengecek perangkat secara kompulsif, membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali fokus, hingga melakukan lebih banyak kesalahan atau melewatkan target dan tenggat waktu.
“Pasti teknologi bisa berubah menjadi jebakan produktivitas ketika energi dan perhatian yang digunakan untuk mengelola teknologi lebih besar daripada manfaat yang diberikan teknologi tersebut,” ujar Bagus.
Fenomena ini menciptakan paradoks produktivitas. Teknologi membuat seseorang dapat bekerja lebih cepat, tetapi juga membuat pekerjaan dapat mengikuti seseorang ke mana pun. Dulu, meninggalkan kantor dapat berarti meninggalkan pekerjaan. Kini, pekerjaan dapat masuk ke ruang pribadi melalui notifikasi.
Menurut Bagus, persoalan tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada individu. Ketika masyarakat semakin terhubung secara digital, organisasi juga perlu memiliki aturan mengenai penggunaan teknologi, mulai dari pengaturan waktu fokus, pembatasan notifikasi yang tidak prioritas, pengurangan aplikasi yang tumpang tindih, hingga batas komunikasi di luar jam kerja.
Tantangannya bukan lagi sekadar menyediakan akses terhadap teknologi, tetapi memastikan teknologi tetap berada dalam fungsi yang dibutuhkan.
AI: Pengungkit Berikutnya atau Distraksi Baru?
Kemunculan kecerdasan buatan membawa paradoks tersebut ke tahap berikutnya.
AI dapat membantu membuat rangkuman, mencari informasi, menganalisis data, menerjemahkan dokumen, hingga menghasilkan materi pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat.
Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan 80% pengguna di Indonesia berinteraksi dengan AI setiap hari, sementara pendapatan aplikasi berbasis AI tumbuh 127% secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan AI mulai menjadi bagian dari aktivitas digital masyarakat. Namun, teknologi yang semakin pintar juga menimbulkan pertanyaan baru: jika perangkat dapat mengambil alih semakin banyak pekerjaan, apakah manusia akan menjadi lebih produktif atau justru semakin bergantung pada teknologi?
“Di sisi lain, AI juga bisa menimbulkan ketergantungan pada penggunaannya sehingga dapat menurunkan produktivitas. Ketergantungan tersebut berpotensi semakin mengikis keterampilan serta menyebabkan misinformasi pada penggunanya,” ujar Izzudin Al Farras, Head of Center of Digital Economy and SMEs INDEF.
Bagi Izzudin, penggunaan AI membuat pekerjaan rutin dan administratif menjadi lebih efisien. Namun, pekerjaan yang membutuhkan analisis dan pemikiran tetap membutuhkan peran pengguna.
Batas antara produktivitas dan ketergantungan muncul ketika AI tidak lagi digunakan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pengganti dalam proses analisis atau pemikiran.
Berpulang Cara Menggunakan Teknologi
Perjalanan teknologi selama tiga dekade menunjukkan satu hal: perangkat terus berubah, tetapi pertanyaan mengenai bagaimana manusia menggunakannya tetap relevan.
Dari ponsel yang hanya digunakan untuk berkomunikasi hingga perangkat yang kini dapat membantu bekerja, berolahraga, bermain, dan menciptakan konten, teknologi semakin menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Dari pengalaman Damar yang menggunakan smartwatch untuk mengukur perkembangan lari hingga Miftahudin yang menjadikan kamera sebagai bagian dari perjalanan, perangkat teknologi semakin sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun, di ruang kerja, perangkat yang sama juga dapat menghadirkan persoalan berbeda.
Bagi masyarakat urban, tantangannya bukan lagi mendapatkan akses terhadap teknologi. Akses tersebut sudah semakin luas. Tantangannya adalah menentukan kapan teknologi digunakan untuk membantu kehidupan dan kapan manusia perlu mengambil jarak darinya.
Pada akhirnya, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat sebuah perangkat dapat menyelesaikan pekerjaan. Produktivitas juga ditentukan oleh kemampuan manusia mengendalikan perangkat tersebut.
Teknologi dapat menjadi pengungkit. Teknologi juga dapat menjadi jebakan. Mode mana yang akhirnya bekerja, bergantung pada siapa yang memegang kendali.
(fik/wep)






























