Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Pelemahan Rupiah Lebih Banyak Dipicu Faktor Domestik

Mis Fransiska Dewi
29 July 2026 17:10

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini lebih banyak disebabkan oleh faktor domestik, ketimbang faktor eksternal kondisi ekonomi global.

Diketahui, rupiah membuka perdagangan Rabu (29/7/2026) dengan melemah 0,12% ke posisi Rp18.088/US$, seiring dominannya sentimen domestik membebani laju mata uang Nusantara. 

“Faktor global itu mungkin 30%-40%, dan faktor domestik mencapai 60%-70% dari masalah,” kata Dipo dalam agenda CORE Midyear Economic Review 2026 “Pertaruhan Stabilitas Ekonomi”, Rabu (29/7/2026).


Dia menjelaskan faktor domestik menjadi salah satu faktor yang paling banyak memengaruhi pergerakan rupiah. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terjadi karena mata uang Indonesia mengalami pelemahan paling dalam di kawasan Asia. Bahkan, sejumlah laporan menunjukkan mata uang garuda masuk dalam jajaran mata uang dengan kinerja terburuk, yakni peringkat kedua atau ketiga terlemah dalam indeks mata uang.

Menurut dia, apabila pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global, maka pergerakannya seharusnya akan sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan. Namun, dia memandang kondisi rupiah berbeda dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina yang telah mengalami penguatan.