Di pasar Asia, pasar obligasi merespons secara beragam. Yield obligasi tenor 10 tahun Jepang dan Singapura naik masing-masing 7,6 basis poin (bps) ke 2,97% dan 7,2 bps ke 2,44%.
Sementara pasar surat utang Malaysia dan Indonesia relatif stabil dengan yield berada di kisaran 4,06% dan 7,08%, begitu juga dengan Korea Selatan yang berada di 4,44%.
Tekanan di obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS (INDON) lebih berat. Yield INDON 10 tahun tercatat naik 10 bps ke 5,87%, menyusul aksi jual di pasar US Treasury. Selain itu, obligasi pemerintah Selandia Baru naik paling tajam 14,4 bps ke 5%, dan Australia naik 13,9% ke 5,38%.
Kenaikan yield obligasi global secara umum terpicu oleh sentimen hawkish bank sentral AS, Eropa, juga Jepang. Bahkan, bank sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga menjadi 2,5% level tertinggi di tahun ini. Jepang dan AS yang akan menentukan suku bunga pekan depan juga diperkirakan akan mengambil sikap sama.
“Konflik di Timur Tengah terus menciptakan tekanan inflasi,” kata Christine Lagarde, Presiden ECB, dalam konferensi pers di Berlin, seperti dikutip Bloomberg News.
Lagarde bahkan memperingatkan bahwa inflasi hanya akan kembali ke target jangka menengah bank sentral sebesar 2% pada akhir 2027.
Dari dalam negeri belum banyak katalis yang mampu menghadang gelombang hawkish di pasar untuk meredam dampaknya terhadap pelemahan rupiah. Meski data penjualan ritel dan keyakinan konsumen mengalami kenaikan secara tahunan, tetapi kenaikan itu belum merata pada semua segmen pengeluaran.
Pemulihan penjualan eceran secara tahunan itu belum dibarengi dengan capaian bulanan yang justru masih terkontraksi 0,1%, turun dari bulan kinerja Juni yang tumbuh 0,7%. Sementara, data Indeks Keyakinan Ekonomi (IKE) pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta/bulan hanya 95, atau masih berada di bawah ambang optimistis 100.
Di sisi lain, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi naik jadi 74,2% dari 72,7% pada Juli. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan, alias tabungan, malah turun dari 16,8% menjadi 15,8%. Mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi itu belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat.
Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan The Fed pekan depan (17 September) disusul Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada 23 September mendatang.
(riset/aji)
































