Yield tenor 2 tahun naik paling tajam 5,1 basis poin (bps) ke 6,82%, disusul tenor 5 tahun naik 2,8 bps ke 6,94%, lalu tenor 8 tahun naik 1,9 bps ke 7,08%. Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun, yield naik 1,1 bps ke 7,11%.
Tak cuma di Indonesia, tekanan jual juga terjadi secara luas pada surat utang tenor 10 tahun di kawasan Asia Pasifik.
Yield surat utang pemerintah Korea Selatan tenor 10 tahun naik 5,5 bps ke 4,44%. Sementara surat utang pemerintah Jepang dan Singapura naik masing-masing 3,2 bps dan 3,1 bps ke 2,9% dan 2,3%.
Kemudian, yield surat utang pemerintah Malaysia juga naik 2,7 bps ke 4,07%. Lalu Filipina 2,1 bps ke 7,25%, Thailand naik 2,5 bps ke 2,25%, dan India naik 1 bps ke 6,96%.
Pelemahan di pasar surat utang terjadi secara serempak di kawasan usai harga energi kembali melambung, dan memperkuat ekspektasi inflasi global, khususnya di pasar Amerika Serikat (AS). Ekspektasi inflasi kembali meningkat dan pelaku pasar bertaruh bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan.
Hal ini juga sempat memicu aksi jual di pasar surat utang pemerintah AS, yang tercermin pada kenaikan yield obligasi AS, US Treasury 10 tahun yang sempat menyentuh 4,84%, posisi tertinggi sejak Oktober 2023.
(dsp/aji)
































