Tekanan konsumsi memang sudah mereda, tetapi mesinnya belum bekerja dengan kekuatan penuh. Perilaku konsumen bak masih setengah hati menginjak gas.
BI memperkirakan penjualan eceran kuartal III-2026 akan ditopang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (1,6%), Suku Cadang dan Aksesori (7,6%), serta Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi yang membaik dari kontraksi 21,7% menjadi 11,1%.
Sementara itu, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor/BBM menunjukkan pola kontraksi semakin dalam. Pada kuartal I-2026 kelompok ini terkontraksi 4,2%, sempat membaik pada kuartal II-2026 dengan kontraksi 0,7%. Lalu, diperkirakan kembali memburuk pada kuartal III-2026 dengan kontraksi makin dalam menjadi 7,4%.
Penjualan pada kelompok bahan bakar kerap berhubungan dengan mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Jika konsumsi bahan bakar terkontraksi, maka bukan hanya dibaca sebagai menurunnya pembelian BBM, melainkan juga adanya potensi berkurangnya mobilitas dan perjalanan yang dilakukan masyarakat.
Agaknya, masyarakat masih selektif dengan mengurangi perjalanan yang tidak perlu, membatasi frekuensi berpergian, dan mengurangi perjalanan rekreasi. Bahkan, pada titik tertentu, penjualan eceran di kelompok BBM ini juga mengindikasikan sikap konsumen memilih transportasi yang lebih murah, dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Sikap konsumen ini sepertinya didorong oleh kenaikan harga BBM non-subsidi. Di samping itu, berkurangnya kinerja penjualan eceran di kelompok BBM bisa juga menjadi resonansi dari tumbuhnya penggunaan kendaraan berbasis listrik di beberapa kota besar.
Konsumen Defensif?
BI memperkirakan penjualan eceran pada kuartal III-2026 ditopang oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (+1,6%) serta Suku Cadang dan Aksesori (+7,6%). Kondisi ini menggambarkan bahwa konsumen cenderung defensif dengan hanya mempertahankan pengeluaran pada kebutuhan pokok.
Penjualan eceran yang masih tumbuh di kelompok Suku Cadang dan Aksesori mengindikasikan masyarakat lebih memilih mempertahankan kendaraan atau barang elektronik yang sudah dimiliki daripada membeli yang baru.
Sementara, penjualan eceran di Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi diperkirakan terkontraksi (-11,1%), disusul Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (-7,4%), Barang Budaya dan Rekreasi (-3,9%), Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya (-3,5%), Sandang (-3,5%), serta Barang Lainnya (-0,6%).
Kontraksi pada kelompok-kelompok seperti peralatan komunikasi dan informasi, dan barang rumah tangga, hingga rekreasi menunjukkan ruang belanja diskresioner masih terbatas.
Dengan begitu, pemulihan konsumsi yang tergambar pada penjualan eceran kali ini belum menunjukkan adanya kebangkitan daya beli yang solid. Masyarakat memang terlihat masih belanja, tapi hanya untuk kebutuhan yang dianggap penting.
Hal ini sejalan dengan hasil Survei Konsumen BI yang mencatat kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 118,5 dari 116,8 secara umum. Namun data IKK itu juga menunjukkan bahwa tingkat optimisme konsumen bergantung pada tingkat pengeluarannya.
Data IKK menggambarkan semakin rendah pengeluaran konsumen (yang umumnya berkorelasi dengan pendapatan), semakin pesimistis mereka dalam memandang kondisi ekonomi.
BI melaporkan kelompok pengeluaran Rp1-2 juta menjadi kelompok dengan kondisi paling pesimistis terhatap ketersediaan lapangan kerja saat ini (IKLK) dengan indeks 92,5. Begitu pula dengan keinginan membeli barang tahan lama (IPDG) dengan indeks 89,9. Keduanya berada di bawah angka 100 (ambang batas indikator optimis). Sedangkan kelompok pengeluaran Rp2,1-Rp3 juta yang mencatat IKLK 98,5, sedangkan IPDG berada di 98,5.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok dengan daya beli rendah belum sepenuhnya merasakan pemulihan ekonomi seperti yang tercermin pada kelompok pengeluaran lebih besar.
Tantangan bagi pemerintah bukan sekadar menjaga konsumsi tetap terjaga, tetapi bagaimana menciptakan kondisi agar pendapatan, daya beli, dan kepercayaan masyarakat cukup kuat untuk mengubah perilaku defensif itu menjadi konsumsi yang lebih luas.
(dsp/aji)































