Logo Bloomberg Technoz

Louis Vuitton Kehilangan Penjualan di China Imbas Kasus Logo Teh

News
10 September 2026 15:00

Pengunjung keluar dari gerai Louis Vuitton di Pacific Place, Jakarta, Kamis (2/1/2025).(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung keluar dari gerai Louis Vuitton di Pacific Place, Jakarta, Kamis (2/1/2025).(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Angelina Rascouet - Bloomberg News

Bloomberg, Pada Juni tahun lalu, Louis Vuitton membuka gerai raksasa berbentuk kapal pesiar di kawasan mewah Jing’an, Shanghai. Peresmian gerai tersebut menarik perhatian banyak orang, dengan daftar tamu yang dipenuhi selebritas, termasuk aktor populer seperti Lin Yi dan Gong Jun yang merupakan duta merek tersebut.

Lebih dari setahun kemudian, merek mewah asal Prancis itu justru menghadapi sorotan dengan nuansa yang sangat berbeda. Perselisihan merek dagang dengan produsen teh lokal memicu reaksi patriotik yang semakin memperburuk penurunan permintaan terhadap label paling menguntungkan milik LVMH.


Di tengah perlambatan yang lebih luas di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia tersebut yang menghantam seluruh merek mewah, label andalan LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE menjadi yang paling terdampak pada Juli dan Agustus, menurut sejumlah orang yang mengetahui masalah tersebut.

Kemarahan di media sosial terkait kasus melawan Molly Tea, yang desain bunga berkelopak empatnya dinilai terlalu mirip dengan monogram terkenal Louis Vuitton, membuat pelanggan menjauh. Meski Louis Vuitton memenangkan perkara tersebut, kontroversi itu memicu kemarahan di internet dan pembelaan keras terhadap Molly Tea. Sejumlah pihak bahkan menyebut logo tersebut mirip dengan pola bunga baoxiang dari Dinasti Tang. Reaksi negatif tersebut mulai terlihat dalam penjualan merek itu, menurut perusahaan riset JL Warren Capital.