Bencana dan Beban Fiskal yang Berulang
Redaksi
08 September 2026 15:19

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kerugian bencana yang diperkirakan semakin mahal menuntut upaya mitigasi yang mumpuni. Bencana alam selama ini kerap diperlakukan sebagai kejadian luar biasa yang datang secara tiba-tiba.
Respons pemerintah pun cenderung berulang dengan pola yang sama saat bencana terjadi: menyalurkan bantuan, menghitung jumlah kerusakan infrastruktur, menyiapkan anggaran untuk pemulihan, lalu aktivitas ekonomi berjalan seperti sebelumnya.
Padahal, biaya ini jauh lebih mahal ketimbang biaya yang harus dikeluarkan dalam bentuk upaya mitigasi.
Data dari Postdam Institute memperkirakan kerugian ekonomi tahunan secara global akibat bencana mencapai US$38 triliun pada tahun 2050.
Sementara, data dari the International Chamber of Commerce (ICC) menunjukkan selama 10 tahun terakhir kerugian ekonomi Amerika Serikat (AS) melonjak menjadi US$935 miliar, disusul China sebesar US$268 miliar, dan India US$112 miliar.
































