Logo Bloomberg Technoz

Bukan Mantab (Makan Tabungan), Rakyat Sudah Matang (Makan Utang)?

Redaksi
08 September 2026 10:58

Pengunjung berbelanja di salah satu supermarket di Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung berbelanja di salah satu supermarket di Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengandalkan konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah. Konsumsi rumah tangga masih jadi tulang punggung ekonomi dengan porsi lebih dari separuh dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun di tengah kondisi ekonomi saat ini, sejumlah kalangan meragukan bahwa konsumsi itu ditopang oleh pendapatan riil masyarakat. Sebab, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berkata sebaliknya.

Dalam IKK Juli, rasio konsumsi terhadap pendapatan secara nasional turun tipis dari 73% menjadi 72,7%. Di sisi lain, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat. 


“Proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,5%, sedikit lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 10,0%,” sebut laporan BI.

Data tersebut sejalan dengan peningkatan outstanding pembiayaan industri pinjaman daring atau pinjaman online (pinjol) yang pada Juli mencapai Rp105,63 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp490 miliar dibandingkan posisi Juni 2026 yang sebesar Rp105,14 triliun.