Selain itu, pembebasan lahan dilakukan secara bertahap untuk area konsesi yang nantinya menjadi lokasi kegiatan penambangan.
ASA merupakan perusahaan pertambangan emas di Sulawesi Utara yang diakuisisi UT melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara dan PT Energi Prima Nusantara.
Transaksi akuisisi 100% saham ASA telah diselesaikan pada 11 Februari 2026.
Pengembangan ASA menjadi bagian dari strategi UT untuk memperbesar portofolio mineral dan mengurangi ketergantungan terhadap batubara termal.
Manajemen sebelumnya menyebut perseroan dalam lima tahun terakhir fokus mencari aset pertambangan baru, terutama mineral lain seperti emas, nikel, tembaga, dan zinc.
Sementara itu, bisnis emas UT saat ini masih menghadapi tekanan akibat penghentian sementara operasional tambang Martabe.
Hingga Juli 2026, penjualan setara emas dari Agincourt Resources dan Sumbawa Jutaraya tercatat 32.000 ons, turun 78% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 143.000 ons.
Manajemen mengatakan Martabe telah kembali beroperasi secara bertahap setelah mengalami suspensi sekitar lima bulan.
Produksi emas Martabe pada 2026 diperkirakan sekitar 65.000 ons, sementara peningkatan produksi lebih lanjut baru diharapkan mulai dilakukan pada 2027 seiring kesiapan infrastruktur.
(fik/wdh)































