Untuk mengantisipasi tekanan pada penjualan unit baru, UNTR juga meningkatkan penetrasi ke sektor pertambangan lain, termasuk emas. Perseroan turut mengandalkan bisnis product support, seperti penjualan suku cadang dan jasa servis, yang dinilai masih relatif stabil karena pelanggan menahan pembelian alat berat baru dan meningkatkan aktivitas pemeliharaan untuk menjaga produktivitas serta availability alat.
Pada segmen kontraktor penambangan, volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) UNTR hingga Juli 2026 turun 10% menjadi 573 juta BCM dari 637 juta BCM. Produksi batu bara untuk klien PAMA juga turun 3% menjadi 80 juta ton dari 83 juta ton, dengan rata-rata stripping ratio 7,1 kali.
Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasian UNTR pada semester I 2026 turun 15% menjadi Rp58,3 triliun. Laba bersih di luar non-recurring item juga turun 48% menjadi Rp4,3 triliun, terutama akibat penurunan penjualan emas serta tekanan pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara akibat alokasi RKAB nasional yang lebih rendah.
(dhf)
































