Logo Bloomberg Technoz

Agaknya investor global tak lagi menghadapi dilema atas kombinasi penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury yang melonjak, serta harga minyak yang menanjak. 

Hari ini, yield US Treasury juga terlihat mulai turun, khususnya pada tenor pendek, setelah pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih longgar. 

Namun, bagi rupiah sejatinya tantangan belum usai dengan harga Brent yang masih bertahan tinggi di kisaran US$95/barel. Sebab, tekanan harga minyak membuat ruang rupiah untuk menguat agresif jadi lebih terbatas. 

Jika dibanding dolar Taiwan dan won Korea Selatan, penguatan rupiah sore ini lebih terbatas. Terlebih, ketidakpastian geopolitik yang jadi penyebab kenaikan harga minyak masih jadi penggerak utama. 

(dsp/aji)

No more pages