Logo Bloomberg Technoz

Data Tenaga Kerja AS Lesu, Rupiah & Mata Uang Asia Bisa Perkasa

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 September 2026 08:27

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan mendapat ruang penguatan pada perdagangan Jumat (4/9/2026), menyusul proyeksi data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang masih lesu. Akan tetapi, harga minyak kembali terangkat ke level tertinggi sejak Juli juga berpotensi menahan laju penguatan mata uang Ibu Pertiwi. 

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah bergerak defensif dengan perubahan terbatas 0,09% ke Rp17.670/US$. Sementara, harga minyak masih tinggi di posisi US$95,78/barel. 

Untuk diketahui, harga minyak mengalami kenaikan mingguan terbesar sejak Juli, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai gangguan berkepanjangan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz. 


Kekhawatiaran akan gangguan pasokan energi ini sempat memangkas penguatan sebagian penguatan mata uang Asia. Dari pasar yang telah dibuka 07.20 WIB, ringgit Malaysia memimpin penguatan 0,16% dan dolar Singapura menguat terbatas 0,04%.

Sementara, yuan offshore dan China melemah masing-masing 0,01%. Bahkan yen Jepang berbalik arah, menyusut 0,06%. 

Pergerakan mata uang Asia pada Jumat (4/9/2026). (Bloomberg)