"Tingkat ambisi [negara-negara] akan sangat menentukan apakah kondisi melampaui batas ini akan berlangsung selama beberapa dekade atau ribuan tahun."
Menurunkan suhu bumi memerlukan pengurangan cepat polusi gas rumah kaca dari bahan bakar fosil serta penyerapan karbon dioksida dari atmosfer, baik melalui cara alami (seperti reboisasi) maupun teknologi seperti penangkapan karbon langsung dari udara (direct air capture).
Agar suhu kembali turun di bawah 1,5°C, negara-negara tidak hanya harus meniadakan emisi mereka, tetapi juga mendorongnya hingga ke tingkat negatif bersih. Pada saat yang sama, mereka perlu memastikan bahwa masyarakat dan perekonomian mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang kian parah.
Laporan tersebut mencatat bahwa meski penurunan suhu dapat mengurangi risiko, beberapa dampak—seperti kenaikan permukaan laut atau hilangnya keanekaragaman hayati—mungkin bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.
Setiap kenaikan suhu sekecil apa pun membawa risiko yang lebih tinggi dan dampak yang lebih parah. Tim penyelamat di Nepal dan China masih mencari sekitar 4.000 orang yang hilang—di mana lebih dari 1.000 orang dipastikan tewas—setelah runtuhnya gletser memicu banjir dahsyat.
Lima gelombang panas melanda Eropa musim panas ini, membuat sungai mengering dan tanaman layu; fenomena ini dikaitkan dengan puluhan ribu kematian tambahan. Kebakaran hutan memenuhi udara dengan jelaga di seluruh Amerika Utara dan Asia Tenggara.
Dalam beberapa dekade mendatang, laporan tersebut memperingatkan negara-negara kepulauan berisiko tenggelam, arus laut yang kritis mungkin melemah, dan risiko kesehatan akan meningkat.
Limiting Overshoot merupakan tinjauan iklim utama pertama dari PBB yang mengasumsikan pelampauan batas kenaikan suhu 1,5°C dan menawarkan langkah-langkah untuk kembali ke batas tersebut.
Para penulis mencatat bahwa berbagai negara telah membuat kemajuan dalam memperlambat perubahan iklim. Emisi hampir mencapai titik stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, emisi harus dipangkas hingga hampir setengahnya pada 2030 dan benar-benar mencapai nol pada pertengahan abad agar suhu dunia tetap berada di bawah ambang batas 1,5°C.
Overshoot akan membuat ketergantungan pada metode penghilangan karbon dioksida (CDR) tidak terelakkan: Dunia kini harus menurunkan kadar CO2 di atmosfer, bukan sekadar mencegah kenaikan kadarnya. Namun, para ahli menekankan bahwa metode ini bukanlah solusi ajaib dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil tetaplah sangat penting.
"Kita tidak bisa mengandalkan CDR sebagai jalan pintas untuk lolos dari masalah, ibaratnya seperti kartu 'bebas penjara'," ujar Richard Betts, ilmuwan iklim dari Universitas Exeter dan UK Met Office yang juga salah satu penulis laporan tersebut. "Kita harus mengurangi emisi dengan urgensi yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya."
Mengurangi dan menghentikan emisi—atau mitigasi—perubahan iklim serta beradaptasi terhadap dampaknya merupakan hal yang sama-sama penting dan saling mendukung, tulis para penulis.
Proses adaptasi akan berjalan lebih lancar, dan akan ada lebih banyak sumber daya yang tersedia untuk itu, jika masyarakat tidak harus berjuang menghadapi bencana yang semakin parah dan semakin sering terjadi akibat tingginya tingkat emisi.
Para penulis menegaskan pihak mana yang memikul tanggung jawab kepemimpinan. "Negara-negara dengan tanggung jawab historis lebih besar atas perubahan iklim harus melakukan upaya paling besar," kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP. Amerika Serikat merupakan penghasil emisi kumulatif terbesar.
Laporan ini tidak memuat pembahasan yang signifikan mengenai peran teknik geoengineering yang belum teruji, seperti menaburkan bahan kimia pemantul sinar matahari ke atmosfer bagian atas atau upaya mencerahkan awan di atas lautan dengan menyemprotkan air laut ke udara.
"Kajian ilmiah mengenai hal ini baru saja dimulai," ujar Andersen. "Jadi, ini bukanlah solusi yang bisa kita andalkan sepenuhnya."
(bbn)
































