Logo Bloomberg Technoz

Kinerja yang secara tak terduga kuat tersebut mendorong ekonom menaikkan proyeksi pertumbuhan di berbagai negara di kawasan dan kembali memunculkan ekspektasi bahwa sejumlah bank sentral mungkin perlu memperketat kebijakan moneter.

“Mengingat tingginya eksposur Asia terhadap energi, ketahanan ini menjadi kejutan positif,” kata Sonal Varma, kepala ekonom untuk India dan Asia di luar Jepang di Nomura Holdings Inc.

Varma memperkirakan Taiwan dan Malaysia akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini, sementara pembuat kebijakan di India telah membuka peluang kenaikan biaya pinjaman. Nomura juga menambahkan proyeksi kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA) sebesar 25 basis poin pada September setelah pertumbuhan ekonomi kuartal kedua melampaui ekspektasi.

Pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia. (Sumber: Bloomberg)

Asia memasuki perang Iran sebagai salah satu kawasan yang paling rentan terhadap guncangan energi di dunia. Pemerintah pun bergerak dalam mode krisis dengan membentuk satuan tugas darurat, memperingatkan warga mengenai tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta berupaya mengamankan pasokan bahan bakar. Mereka menggunakan cadangan minyak, mengalihkan pasokan dari Timur Tengah, dan mencari sumber minyak dari Amerika Latin serta Asia Tengah.

Permintaan yang lebih lemah dari China juga membantu menahan kenaikan harga, kata para ekonom.

Untuk membantu membatasi kelangkaan pasokan ketika Selat Hormuz secara efektif tertutup bagi aktivitas perdagangan, sejumlah negara meningkatkan penggunaan sumber energi domestik seperti batu bara, tenaga surya, dan bahan bakar nabati, menurut Aninda Mitra, kepala Strategi Makro Asia di BNY.

Di Australia, lonjakan harga bahan bakar mempercepat peralihan pengendara ke kendaraan listrik, dengan pembelian kendaraan tersebut melonjak 10,3% dalam tiga bulan hingga Juni.

Otoritas Singapura hampir menggandakan dukungan bagi rumah tangga dan dunia usaha melalui voucher tunai, hibah, serta bantuan sewa. Thailand mengalihkan belanja negara dan menyiapkan tambahan bantuan untuk meringankan biaya hidup, sementara India meluncurkan dukungan bagi usaha kecil.

Langkah-langkah tersebut “melindungi neraca keuangan rumah tangga dan membatasi penurunan permintaan yang merusak,” kata Mitra.

Bagi sejumlah negara di kawasan, permintaan terkait AI telah menjadi pendorong pertumbuhan, meski ekonom Standard Chartered Plc Jonathan Koh dan Edward Lee mempertanyakan berapa lama dorongan tersebut dapat bertahan.

Di pasar saham, Taiwan dan Korea Selatan melaju lebih cepat, dengan indeks acuan masing-masing naik sekitar 35% dan 15% dalam enam bulan terakhir. Mata uang negara-negara yang diuntungkan dari booming AI juga bertahan lebih baik. Won Korea Selatan dan yuan China menguat terhadap dolar AS, sementara peso Filipina dan baht Thailand tertinggal.

Namun, lonjakan harga energi lainnya atau koreksi dalam siklus investasi AI menjadi salah satu risiko terbesar bagi perekonomian negara-negara tersebut, kata Koh dan Lee.

Aksi jual obligasi global mendorong biaya pinjaman pemerintah naik. Kondisi ini berpotensi membuat perpanjangan subsidi dan bantuan lainnya menjadi lebih mahal, sekaligus mempersempit ruang bagi bank sentral untuk merespons perlambatan ekonomi.

Jalur pertumbuhan ke depan juga tidak “sederhana”, kata Lavanya Venkateswaran, ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp Ltd.

Pertumbuhan ekonomi tertinggal di Thailand dan Filipina, karena tekanan domestik mengimbangi faktor-faktor yang mendorong sebagian besar perekonomian Asia. China juga tumbuh lebih lambat dari perkiraan pada kuartal terakhir, mencatat pertumbuhan terlemah dalam lebih dari tiga tahun.

“Tekanan harga yang lebih luas di seluruh perekonomian mulai meningkat di kawasan ini. Tren harga konsumen juga tidak merata, serupa dengan pertumbuhan ekonomi,” tambahnya. “Kesimpulannya, pengetatan kebijakan moneter masih menjadi kemungkinan bagi kawasan ini dalam 6-12 bulan ke depan.”

(bbn)

No more pages