Logo Bloomberg Technoz

Konflik Timteng Panas, Bursa Asia Mengekor Pelemahan Wall Street

News
01 September 2026 06:40

Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Rob Verdonck - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan mengikuti pelemahan Wall Street setelah kembali meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga minyak, menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan prospek pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Kontrak berjangka saham mengindikasikan penurunan di Sydney, Tokyo, dan Hong Kong, sementara kontrak berjangka S&P 500 relatif stabil setelah indeks acuan tersebut memangkas kenaikannya pada Agustus. Harga minyak mentah AS melanjutkan penguatan pada perdagangan awal Asia setelah eskalasi di Timur Tengah mendorong harganya mendekati US$86 per barel pada Senin (31/8). Kenaikan biaya energi turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025.


AS dan Iran saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya dalam sekitar sebulan. Pasukan AS menyerang sebuah pulau di Selat Hormuz, sementara Republik Islam Iran merespons dengan melancarkan serangan ke Uni Emirat Arab dan Yordania.

Kembali pecahnya permusuhan tersebut memupus harapan normalisasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak juga memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Meski banyak hal bergantung pada data ketenagakerjaan dan inflasi, pasar uang kini memperkirakan kenaikan suku bunga lebih mungkin terjadi daripada tidak pada September.