Logo Bloomberg Technoz

Serangan yang terus berlanjut ini membuat para pelanggan Saudi cemas, dan beberapa di antaranya kini enggan menggunakan pelabuhan-pelabuhan Saudi di Laut Merah.

Hal ini memaksa Riyadh mempertimbangkan rute alternatif yang memutar jauh melewati Afrika, yang menambah jarak tempuh ribuan mil dan semakin mengganggu rantai pasokan global yang sudah tertekan akibat konflik selama enam bulan di kawasan tersebut.

Risiko di Laut Merah dan Teluk memangkas ekspor hingga mendekati level terendah dalam satu dekade pada Agustus. (Bloomberg)

Saudi mampu dengan cepat mengalihkan ekspor minyaknya ke pesisir Laut Merah tak lama setelah perang pecah pada akhir Februari dan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, pintu gerbang menuju terminal minyak Riyadh di pesisir Teluk Persia.

Pengiriman tersebut berperan krusial dalam meredam lonjakan harga minyak dan membantu melindungi perekonomian dari lonjakan inflasi. 

Menurut data pelacakan yang dihimpun Bloomberg, ekspor melalui pelabuhan Yanbu di pesisir barat melonjak menjadi sekitar 4,3 juta barel per hari pada Juni, dibandingkan dengan sekitar 770.000 barel per hari pada Januari.

Volume ekspor melandai menjadi 3,7 juta barel per hari pada bulan berikutnya, setelah Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran Saudi, dan kembali turun menjadi sekitar 2,25 juta barel per hari pada bulan lalu.

Sementara itu, ekspor melalui Teluk Persia yang sempat pulih sedikit ke angka sekitar 800.000 barel per hari pada Juli, kembali turun pada Agustus.

Angka bulanan terbaru ini bersifat sementara dan dapat direvisi seiring lebih banyak pengiriman gelap dan transfer antar-kapal terkait teridentifikasi. Saudi Aramco menolak berkomentar mengenai angka-angka tersebut, sementara Kementerian Energi tidak menanggapi permintaan komentar.

Penurunan ini menjadi pukulan bagi Kerajaan Arab Saudi maupun pasar global. Bulan lalu sempat ada tanda-tanda bahwa aktivitas pemuatan minyak mulai meningkat dari terminal raksasa Ras Tanura di pesisir Teluk Persia, di mana citra satelit menunjukkan empat kapal tanker sedang memuat.

Hal ini menambah pasokan yang keluar dari Irak dan Kuwait, sementara Uni Emirat Arab berhasil mengangkut kargo melalui Selat Hormuz. 

Namun, ketegangan di kawasan tersebut semakin memuncak pekan ini setelah AS menyerang target-target militer di Iran dan Republik Islam Iran membalas dengan menembakkan proyektil ke arah negara-negara Teluk lainnya yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Situasi ini mendorong harga minyak mentah di London kembali ke atas level US$95 per barel—angka tertinggi sejak akhir Juli—serta memicu kekhawatiran mengenai dampak inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga.

(bbn)

No more pages