Kendati demikian, DEWA mesti melakukan eksplorasi lanjutan untuk memastikan nilai ekonomi dan prospek cadangan emas dan tembaga yang tersimpan pada konsesi tersebut.
Proyek eksplorasi Gayo Lues dalam 12 bulan terakhir berfokus pada prospek utama Upper Tengkereng dan Lower Tengkereng.
Kedua wilayah tersebut saat ini masih berada pada tahap eksplorasi awal hingga menengah, dengan kegiatan pengeboran yang menargetkan fitur-fitur geologi prospektif yang telah diidentifikasi melalui pemetaan permukaan, pengambilan sampel geokimia, dan survei geofisika.
Pinjaman tanpa bunga dari Seraya Laju Karya terlihat menopang kegiatan eksplorasi awal yang tengah dikerjakan DEWA di Gayo Lues. DEWA menyerap Rp196,53 miliar pinjaman dari Seraya dalam kurun November-Desember 2025.
Sampai periode yang berakhir Juni 2026, DEWA telah mencairkan Rp297,88 miliar dari pinjaman yang diberikan Seraya atau sekitar 65% dari plafon.
Manajemen DEWA menuturkan Seraya Laju Karya berperan sebagai pihak ketiga yang mendukung pendanaan kegiatan eksplorasi Gayo Mineral saat ini.
Manajemen DEWA tidak menanggapi pertanyaan Bloomberg Technoz ihwal kemungkinan investasi lanjutan Seraya di anak usaha kontraktor tambang Grup Bakrie tersebut.
“Seraya berperan sebagai pihak ketiga yang mendukung pendanaan kegiatan eksplorasi GMR,” kata manajemen DEWA saat dihubungi.
Mengutip dokumen Ditjen AHU, Seraya Laju Karya baru berdiri pada 7 November 2025 atau sekitar dua pekan sebelum perusahaan memberi pinjaman ke Gayo Mineral Resources.
Pengurus dan pemegang saham Seraya Laju Karya adalah Damianus Kerowe Hera dan Muhammad Thibian Arrafi. Dua nama ini masuk ke dalam tim konsultan hukum Legal Tree.
(naw)






























