Harga emas akhirnya naik usai turun tiga hari beruntun. Selama tiga hari tersebut, harga berkurang hampir 6%.
Jadi, sepertinya harga emas memang sudah ‘murah’. Emas kembali menarik di mata investor dan terjadi aksi borong yang kemudian mendongkrak harga.
Selain itu, pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) juga turut menjadi sentimen positif bagi harga emas. Kemarin, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah tipis 0,08% ke 99,597.
Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Saat mata uang Negeri Paman Sam terdepresiasi, maka emas menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.
Pelemahan dolar AS merupakan efek dari pernyataan John Williams, Gubernur Federal Reserve (bank sentral AS) New York. Williams menyebut bahwa ada bukti laju inflasi di Negeri Adikuasa melambat seiring meredanya dampak kebijakan tarif dan kenaikan harga energi tidak menyebar ke seluruh sektor ekonomi.
“Data terkini cukup mendukung. Saya melihat laju inflasi melambat karena dampak kebijakan tarif sudah dilalui,” tegas Williams, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Pernyataan Williams membuat pelaku pasar mengkaji ulang proyeksi arah kebijakan The Fed. Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75-4% dalam rapat September adalah 62,3%. Turun dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 67,2%.
(aji)



























