Dedy menegaskan dampak dari fenomena El Niño tidak membuat operasional smelter di kawasan IMIP terhenti ataupun melakukan pengurangan tenaga kerja.
“Kendala dari ekses gangguan iklim masih dapat dikontrol tanpa berimbas lebih besar bagi kesejahteraan pekerja,” ungkap Dedy.
Dia menyatakan perseroan memahami kondisi ketersediaan air dapat memengaruhi operasional fasilitas yang menggunakan air dalam proses produksinya.
Sejumlah perusahaan yang terdampak antara lain; smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching (HPAL), pabrik produksi kokas, dan daya pendukung pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP,” tegas dia.
Sebelumnya, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional, gegara turunnya pasokan listrik imbas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang kekurangan air.
Adapun, smelter nikel BMS tercatat memiliki izin usaha industri (IUI) yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian, karena tidak terintegrasi langsung dengan kepemilikan konsesi tambang hulu atau izin usaha pertambangan (IUP) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Berdasarkan laporan berbagai media lokal, kondisi tersebut membuat PT BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja.
Kendati begitu, para pekerja yang dirumahkan disebut bakal tetap menjadi karyawan aktif dan mendapatkan hak serta kewajibannya.
Turunnya pasokan listrik gegara PLTA kekurangan air dikabarkan menyebabkan smelter berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) 1 PT BMS mengalami penurunan produksi.
Kalla Group selaku induk usaha PT BMS belum membalas permintaan konfirmasi dan tanggapan yang dikirimkan Bloomberg Technoz.
Di sisi lain, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyatakan proyek pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Sulawesi secara umum belum terkena dampak langsung dari fenomena El Niño tahun ini.
“Saat ini belum ada lokasi proyek pengolahan dan pemurnian nikel lainnya yang terdampak secara langsung akibat fenomena El Niño tahun ini,” ungkap Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah saat dihubungi, Senin (31/8/2026).
Kendati demikian, Arif menegaskan sejumlah langkah pencegahan tetap dijalankan oleh para pelaku usaha untuk menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan panjang.
“Akan tetapi, langkah-langkah antisipasi masing-masing pelaku usaha tentunya telah dijalankan mengingat fenomena El Niño 2026 telah menyebabkan musim kemarau yang jauh lebih kering, panas, dan panjang di sebagian besar wilayah Sulawesi,” jelasnya.
Kawasan Industri IMIP adalah kerja sama antara perusahaan BintangDel apan Group dari Indonesia dengan perusahaan Tsingshan Steel Group dari China.
Tsingshan Group sendiri adalah perusahaan terbesar di dunia yang bergerak dalam bidang pengolahan nikel dan sudah menguasai teknologi pengolahan yang lengkap dengan teknologi yang maju dan modern.
Pemegang saham IMIP didominasi oleh Shanghai Decent Investment Group dengan porsi 49,69%, PT Sulawesi Mining Investment (SMI) sebesar 25%, dan PT Bintang Delapan Investama sebesar 25,31%.
Sejak awal mula proyek industri nikel ini, nilai investasi di kawasan ini telah mencapai US$7,1 miliar. Di sana, terdapat setidaknya 11 smelter nikel dengan kapasitas 40 line.
Menyitir data Auriga Nusantara, terdapat setidaknya terdapat 9 perusahaan asal China di IMIP, baik yang mengoperasikan pabrik pengolahan atau smelter maupun pembuatan baja nirkarat dan juga bahan baku baterai kendaraan listrik.
Perusahaan itu a.l. PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry (GCNS); Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS); Tsingshan Steel Indonesia (TSI); Indonesia Ruipu Nickel and Chrome Alloy (IRNC); PT Dexin Steel Indonesia (DSI); Hengjaya Nickel Industry (HNI); Ranger Nickel Industry (RNI); Huayue Nickel & Cobalt (HYNC); PT Gunbuster Nickel Industry; dan Qing Mei Bang New Energy Materials Indonesia (QMB).
(azr/wdh)






























