Ketegangan itu membuat harga minyak Brent kembali menembus US$95/barel, disusul kenaikan West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$91/barel.
Dari domestik, pelaku pasar mencerna data ekonomi Indonesia serta capaian tersebut dengan kondisi ketegangan AS-Iran yang berpotensi mengerek harga minyak kembali tinggi.
Surplus yang tipis US$3,7 miliar antaran kinerja ekspor yang sebesar US$167,03 miliar belum mampu mengimbangi impor Rp163,33 miliar. Nilai impor meningkat US$27,16 miliar, sementara ekspor hanya US$7,08 miliar.
Kinerja ini masih dapat berkontribusi terhadap ketahanan eksternal, meski belum sepenuhnya memberi ruang yang nyaman bagi rupiah. Sebab, surplus perdagangan yang topis menunjukkan bahwa kebutuhan impor masih tubuh cukup kuat dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap valuta asing.
Jika eskalasi konflik AS-Iran bertahan lebih lama dan meningkatkan gangguan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz, risiko ini dapat menaikkan harga minyak lebih tinggi.
Situasi itu membuat ruang gerak rupiah pada perdagangan hari ini menjadi lebih terbatas. Terlebih, penguatan dolar AS berpotensi kembali mendapat tenaga dari sinyal hawkish The Fed, dan meningkatnya permintaan aset safe haven kala risiko geopolitik kembali memburuk
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi melemah, dibayangi sentimen yang kurang positif di pasar, dengan target pelemahan menuju level Rp17.750/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua harus tertahan di Rp17.800/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut dengan volume yang besar, rupiah berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level pesimistis Rp17.850/US$ sebagai support paling terkuatnya.
Jika nilai tukar rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada pada level range Rp17.700/US$ dan selanjutnya kembali menembus Rp17.600/US$ potensialnya
(riset)





























