Logo Bloomberg Technoz

Pertempuran kembali pecah setelah beberapa pekan relatif tenang, ketika pemerintahan Trump mengatakan akan mengalihkan fokus dari aksi militer ke penerapan langkah-langkah ekonomi untuk menekan Teheran. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah pulih hingga sekitar setengah dari level sebelum perang akibat menurunnya serangan, salah satunya berkat pelayaran rahasia yang dilakukan produsen minyak utama di Timur Tengah.

Kembalinya pertempuran secara berkelanjutan berisiko mendorong kenaikan biaya energi dan inflasi, membuat investor global gelisah, serta mempersulit upaya Partai Republik mempertahankan kendali atas Kongres AS dalam pemilu sela November.

Bagi Iran, kembalinya volume pengiriman melalui selat tersebut ke level mendekati kondisi sebelum perang berisiko mengurangi daya tawarnya dalam setiap perundingan perdamaian di masa mendatang.

Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) mengatakan serangan pada Selasa menyasar target milik Korps Garda Revolusi Islam. Ledakan terdengar di Bandar Abbas, Chabahar, dan Kuhestak di Iran bagian selatan, demikian dilaporkan media pemerintah Nour pada Selasa (1/9). IRIB melaporkan setidaknya dua warga sipil tewas di Provinsi Hormozgan.

Anggota DPR AS Mike Rogers, politikus Partai Republik dari Alabama, mengatakan dia memperkirakan pertempuran akan kembali meningkat setelah mengikuti pengarahan tertutup dengan seorang komandan militer senior pada Selasa.

“Ada sebuah rencana,” katanya kepada wartawan, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

AS belum memberikan konfirmasi langsung atas klaim Iran mengenai serangan terhadap pangkalan militer di Yordania. Namun, media lokal melaporkan sistem pertahanan udara mencegat rudal yang masuk. Negara sekutu AS tersebut semakin menjadi sasaran serangan balasan Teheran, setelah dua personel militer AS tewas dalam sebuah serangan di sana pada Juli.

Serangan terbaru AS terjadi sehari setelah dua kapal supertanker minyak yang berupaya keluar dari selat tersebut terkena proyektil dalam waktu berdekatan, menurut konsultan keamanan maritim Marisks. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker tersebut. Namun, laporan itu muncul setelah AS dan Iran kembali melakukan aksi saling serang terkait penguasaan jalur strategis tersebut.

Pada Senin (31/8), AS mengatakan telah menargetkan peluncur roket Iran yang sedang bersiap mengirim ranjau ke selat tersebut. Iran kemudian membalas dengan menyerang Uni Emirat Arab (UEA) dan Yordania.

Di tengah eskalasi tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent berupaya mengecilkan arti penting Selat Hormuz. Dia mengatakan selat tersebut pada akhirnya akan menjadi tidak relevan karena meningkatnya penggunaan jaringan pipa minyak. Pernyataan itu tampaknya tidak memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan besar terhadap jalur pasokan energi tersebut. Selain itu, komoditas penting lainnya, termasuk aluminium dan pupuk, masih harus melalui selat tersebut.

AS dan Iran mengeluarkan laporan yang saling bertentangan mengenai keamanan pelayaran di selat tersebut. Seorang komandan senior AS menyatakan bahwa “jalur pelayaran internasional terbuka” setelah pasukan AS membersihkan ranjau Iran. Pernyataan tersebut, yang disampaikan setelah klaim serupa dari Trump, secara pribadi diragukan oleh sejumlah sekutu AS, menurut laporan Bloomberg pekan lalu.

Pada Senin, Trump menyebut konflik tersebut sebagai “perang kecil”. Meski demikian, belum ada tanda-tanda penyelesaian dalam waktu dekat, sementara harga minyak telah naik lebih dari 45% sejak awal tahun.

Departemen Luar Negeri AS pada Selasa mengeluarkan peringatan keamanan regional yang memperingatkan warga AS di kawasan tersebut mengenai situasi yang “kompleks” dan “potensi eskalasi yang tidak terduga.”

AS dan Iran sejauh ini belum menunjukkan keinginan besar untuk kembali berunding sejak runtuhnya kesepakatan perdamaian sementara yang ditandatangani lebih dari dua bulan lalu.

Berbicara dalam pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pandangan pesimistis mengenai kemungkinan dimulainya kembali perundingan formal.

Qatar pada Selasa mengatakan upaya mediasi untuk mengatasi kebuntuan masih terus berlangsung.

Kehadiran Pezeshkian dalam KTT SCO berlangsung lebih dari sepekan setelah AS melancarkan kampanye untuk semakin mengisolasi Iran, dengan memperingatkan negara-negara agar tidak berhubungan dengan Republik Islam tersebut atau menghadapi hukuman dari Washington. Sejauh ini belum banyak tanda bahwa mitra bisnis maupun perdagangan Iran merespons ancaman tersebut. Perdana Menteri India Narendra Modi termasuk di antara peserta SCO yang mengatakan mereka ingin memperkuat hubungan.

(bbn)

No more pages