Logo Bloomberg Technoz

Namun tak lama berselang, rupiah berbalik arah dan ikut ke gerbong dolar Taiwan dengan penguatan terbatas 0,03% pada 09:03 WIB ke Rp17.715/US$. Meski pada 09:19 WIB penguatannya terpangkas menjadi hanya 0,01% ke Rp17.719/US$. 

Pergerakan rupiah hari ini masih akan dibayangi sentimen pasar terhadap rilisnya data ekonomi, seperti neraca perdagangan, ekspor-impor, dan data inflasi yang diperkirakan menghangat jadi 3,15% dari sebelumnya 2,88%. 

Di pasar obligasi, sebagian besar tenor mulai mencatat aksi jual dengan tekanan paling besar di tenor 6 tahun, dengan kenaikan yield sebesar 5,3 bps ke 6,96%. Sementara tenor 4 tahun naik 1,9 bps menjadi 6,84%, tenor 11 tahun naik 1,5 bps menjadi 7,04%, dan tenor 12 tahun naik ke 7,08%. Namun, yield tenor 10 tahun tercatat turun 1,1 bps ke 7,01%. 

Hari ini, pelaku pasar akan mencermati data inflasi domestik. Data inflasi akan menentukan arah rupiah dan kebijakan suku bunga BI.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede mengatakan, jika sumber inflasi berasal dari pangan dan harga yang diatur pemerintah, maka responsnya bisa melalui upaya stabilisasi pasokan, alih-alih menaikkan suku bungan BI Rate.

"Sebaliknya, apabila inflasi inti ikut naik secara persisten, rupiah melemah tajam, dan ekspektasi inflasi memburuk, maka alasan untuk menaikkan BI Rate menjadi jauh lebih kuat," kata Josua.

(dsp/aji)

No more pages