Insiden tersebut menunjukkan tingginya ketegangan antara Washington dan Teheran, sementara kedua negara masih berselisih mengenai status Selat Hormuz. Pernyataan Trump mengenai kemungkinan serangan AS berikutnya mengindikasikan kedua pihak mungkin kembali memasuki siklus eskalasi militer yang dapat meningkatkan volatilitas pasar energi dan saham.
Sebelumnya, media Iran melaporkan bahwa otoritas negara itu menyita sebuah kapal curah di dekat Pelabuhan Bandar Abbas di Selat Hormuz dan mengklaim sebuah supertanker minyak yang berusaha melintasi jalur perairan tersebut terkena ranjau pada Senin pagi. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan dalam unggahan di media sosial pada Senin bahwa tidak ada kapal yang terkena ranjau di Selat Hormuz.
CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan pada Minggu bahwa pihaknya menembaki pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam “tindakan terbatas dan presisi” setelah mendeteksi mereka sedang bersiap menempatkan ranjau di Selat Hormuz.
IRGC membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan udara AS di Yordania pada Senin pagi. Militer Yordania mencegat delapan rudal dan menghancurkannya sebelum menimbulkan kerusakan, menurut kantor berita Jordan News Agency. Militer UEA juga menangani sebuah drone yang berasal dari Iran di atas perairan teritorial negara tersebut dan mengatakan pasukannya tetap dalam status siaga tinggi.
Harga minyak mentah naik seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dengan Brent mengakhiri perdagangan di atas US$90 per barel. Harga gas alam Eropa juga meningkat.
Sejumlah pejabat AS dan Iran, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, mengatakan mereka memperkirakan konflik akan berlangsung selama berbulan-bulan. Kedua pihak pada dasarnya berada dalam kebuntuan, sementara kembali pecahnya pertempuran menghentikan jeda permusuhan yang berlangsung selama berminggu-minggu.
“Situasi tanpa perang maupun perdamaian tidak dapat menjadi solusi yang berkelanjutan,” kata Anwar Gargash, penasihat senior kebijakan luar negeri bagi kepemimpinan UEA, di X tak lama setelah negaranya menggagalkan serangan drone. “Yang dibutuhkan saat ini adalah solusi politik yang realistis dan berkelanjutan yang menangani dimensi politik dan ekonomi dari krisis ini, dimulai dengan mengakhiri eskalasi dan mengembalikan pelayaran di Selat Hormuz ke kondisi normal.”
Serangan AS tersebut merupakan serangan pertama terhadap Iran sejak akhir Juli, ketika Trump beralih ke kampanye tekanan ekonomi yang bertujuan mendapatkan konsesi dari Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjanjikan “serangan ekonomi besar-besaran” terhadap Iran dan mitra dagangnya. China termasuk di antaranya, yang membeli 90% minyak Iran.
Namun, tekanan ekonomi tersebut sejauh ini belum cukup kuat untuk meyakinkan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan kelompok garis keras di pemerintahan menerima tuntutan AS serta mengizinkan kapal-kapal melintas bebas di Selat Hormuz.
Negara-negara yang memiliki hubungan dengan Teheran juga sejauh ini mengabaikan ancaman sanksi. Sementara itu, para analis Iran dan pakar sanksi sebagian besar menilai langkah awal AS belum memberikan dampak yang berarti.
Kembalinya permusuhan secara berkelanjutan berisiko mendorong kenaikan biaya energi dan memicu inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat investor global gelisah sekaligus mempersulit upaya Partai Republik mempertahankan kendali atas Kongres AS dalam pemilu sela November. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan meningkatnya frustrasi warga Amerika terhadap perang dan ketidakmampuan Trump mengakhirinya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran tetap terbuka untuk melanjutkan diplomasi dengan AS, tetapi menilai kemajuan bergantung pada kesediaan Washington menghentikan tekanannya.
Iran, khususnya, menginginkan AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Operasi tersebut menghambat Iran menyalurkan minyak ke pasar internasional dan mengimpor berbagai barang penting, sehingga mendorong kenaikan inflasi.
Setelah melakukan “diskusi kreatif” pekan lalu dengan Qatar, yang menjadi mediator dalam konflik tersebut, Araghchi mengatakan kemajuan “bergantung pada pemahaman AS mengenai satu fakta sederhana: tekanan tidak akan berhasil.”
Bessent mengatakan Gedung Putih akan membahas rencana dengan para sekutunya untuk menghentikan pembelian produk Iran, tetapi sejauh ini belum ada kesepakatan untuk melakukan hal tersebut.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS tersebut mengindikasikan rencana untuk meningkatkan tekanan ekonomi. Kepada Associated Press menjelang pertemuan para menteri keuangan G-20 di North Carolina, Bessent mengatakan AS akan menjatuhkan sanksi terhadap bank kedua yang melakukan bisnis dengan Iran pada pekan ini.
“Ini akan menjadi kekerasan finansial jika memang diperlukan,” kata Bessent.
(bbn)





























