Prediksi Rupiah Usai Sinyal Hawkish The Fed, Bisa Rp18.000/US$?
Tim Riset Bloomberg Technoz
31 August 2026 15:41

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupanya pergerakan rupiah yang relatif kondusif pada Agustus dan sempat menguat 1,52% harus tertahan pada hari terakhir perdagangan bulan tersebut, Senin (31/8/2026). Sepanjang Agustus, penguatan rupiah tergerus menjadi 1,47% secara month-to-date.
Hingga pukul 13:30 WIB, rupiah masih melemah 0,28% ke Rp17.740/US$.
Sinyal hawkish yang dikirim bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang dikirim langsung oleh sang gubernur Kevin Warsh memicu perubahan peta risiko bagi laju penguatan rupiah. Warsh menegaskan sasaran inflasi 2% sebagai target tetap, dan menyebut fokus utama The Fed saat ini tetap pada pengendalian harga. Bahkan data Personal Consumption Expenditure (PCE) tahunan, yang menjadi rujukan data inflasi bank sentral AS, masih 3,7%, dan enam bulanan 4,1%.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, perkembangan pasca-Jackson Hole Meeting mengubah peta risiko pasar keuangan Indonesia. Sikap hawkish Federal Reserve di bawah Warsh memberikan risiko jangka pendek terhadap rupiah melalui penguatan dolar dan kenaikan suku bunga AS tenor pendek. Pernyataan Warsh di Jackson Hole telah meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan mendorong yield Treasury tenor pendek serta dolar AS lebih tinggi.
Fakhrul menilai rupiah berpotensi menghadapi risiko jangka pendek yang datang dari ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik dolar dan membuat biaya memegang posisi short-dollar lebih mahal.




























