“Untuk rupiah, saya melihat risikonya memang meningkat dalam jangka pendek. Ketika pasar kembali melakukan repricing terhadap Fed Funds Rate, dollar carry menjadi lebih menarik. Oleh karena itu kita harus memberikan ruang bagi rupiah untuk melakukan price discovery terhadap perubahan kondisi global tersebut,” ujar Fakhrul.
Namun, Fakhrul menilai kondisi tersebut belum tentu berkembang menjadi tekanan berkepanjangan terhadap rupiah. Arah nilai tukar selanjutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan indeks dolar AS (DXY), neraca pembayaran Indonesia, serta kemampuan pasar domestik mempertahankan aliran modal asing.
Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede mengatakan tekanan setelah pidato Warsh akan terasa terutama hingga data ketenagakerjaan dan inflasi AS berikutnya, serta pertemuan The Fed 15-16 September.
"Jadi, periode paling rentan adalah sekitar dua sampai tiga minggu ke depan, bukan berarti otomatis sepanjang sisa tahun. Untuk jangka sangat pendek saya melihat rupiah cenderung bergerak di kisaran Rp17.700–18.050/US$ dengan titik berat sekitar Rp17.800–Rp17.950/US$," kata Josua.
Ia menambahkan, tekanan yang sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi ini berpontesi memburuk jika data ketenagakerjaan AS kuat, inflasi kembali tinggi, yield US Treasury meningkat, dan harga minyak mentah Brent kembali bertahan di sekitar atau di atas US$90/barel.
Jika kombinasi ini terjadi, maka rupiah berpotensi kembali menguji Rp18.100-18.300/US$.
Josua mengatakan, Bank Permata belum sepenuhnya mengubah secara drastis perkiraan rupiah pada akhir 2026 uakni di rentang Rp17.800-18.000/US$. "Namun setelah pidato Warsh, risiko proyeksi tersebut jelas bergeser ke sisi yang lebih lemah," katanya.
Kerentanan rupiah itu disebabkan oleh kondisi fundamental domestik yang belum sepenuhnya pulih. Defisit transaksi berjalan kuartal kedua 2026 sudah mencapai 3,34% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara arus modal selama 2026, masih sangat bergantung pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Josua mengatakan, kerentanan rupiah berpotensi terus terjadi selama kemampuan Indonesia dalam menghasilkan pasokan devisa masih bergantung pada arus modal asing, demi menutup kebutuhan transaksi berjalan, alih-alih memperkuat sektor perdagangan seperti pertumbuhan ekspor.
Bahkan, konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekspor Juli diperkirakan melambat jadi 3,1%, yoy dari capaian Juni 8,84% yoy. Kondisi ini dapat mempersempit kesempatan BI untuk bisa menumpuk kembali cadangan devisa. Meski ekspor tumbuh 8,84%, ternyata cadangan devisa Juli malah berkurang US$0,3 miliar menjadi US$145,3 miliar.
Dengan proyeksi ekspor yang melambat dan hanya mampu tumbuh ke 3,1%, posisi cadangan devisa bisa jadi tak lebih baik dari bulan sebelumnya.
Meski begitu, ia memperkirakan BI tetap mempertahankan BI Rate di 5,75% sebagai skenario dasar pada pertemuan September mendatang. Namun, dengan sinyal hawkish dari The Fed, Josua menyebut risiko kenaikan sebesar 0,25 basis poin (bps) juga meningkat.
Terlebih, inflasi Agustus diramal menghangat jadi 3,15% secara tahunan. Walaupun masih berada dalam rentang target BI 1,5-3,5%, tetapi tekanan inflasi kali ini berpotensi datang dari banyak jalur.
Pertama, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan produksi secara bertahap. Kedua, pelemahan rupiah meningkatkan biaya barang impor dan dapat memperkuat imported inflation. Ketiga, risiko El Nino berpotensi menekan produksi pangan dan mendorong harga komoditas makanan.
Dengan begitu, tantangan bagi rupiah dan BI pada September mendatang bukan hanya datang dari sinyal hawkish The Fed, tapi juga inflasi yang berpotensi kembali naik.
(dsp/aji)





























