"Peningkatan pelayaran tanpa sinyal [dark crossings] oleh perusahaan pengapalan khusus serta transfer minyak antarkapal menunjukkan produsen dan perusahaan pengapalan sedang beradaptasi dengan konflik di Timur Tengah," kata Goldman.
Arus pelayaran tanpa sinyal yang lebih tinggi dapat "meredam potensi kenaikan harga minyak mentah, bahkan jika gangguan di Timur Tengah berlangsung lebih lama," tambah mereka.
Besaran volume minyak yang melewati Selat Hormuz sulit dipastikan karena kapal tanker sering kali mematikan transponder satelit mereka—praktik yang dikenal sebagai 'going dark'—untuk menghindari deteksi.
Para pedagang mengatakan kepada Bloomberg pekan ini bahwa sekitar 6 juta hingga 8 juta barel minyak mentah melintasi selat tersebut setiap harinya.
Ekspor ini membantu menjaga stabilitas harga minyak global, yang telah turun menjadi sekitar US$89 per barel dari angka di atas US$120 pada April.
Perkiraan para pedagang tersebut hanya mencakup minyak yang melewati Selat Hormuz, dan tidak memasukkan sebagian ekspor Arab Saudi yang melalui Laut Merah.
Meskipun volume minyak yang keluar dari Teluk Persia cukup besar, arus gas alam cair (LNG) dan bahan bakar olahan justru lebih rendah.
"Dalam skenario gangguan yang berkepanjangan, kami terus melihat potensi kenaikan harga yang lebih besar pada harga gas alam Eropa dan harga produk minyak dibandingkan dengan harga minyak mentah," ujar Goldman.
(bbn)































