"China mengambil langkah strategis pada hidrogen terbarukan sebagai cara untuk menyalurkan listrik bersih ke sektor-sektor yang sulit dijangkau melalui elektrifikasi," ujar Muyi Yang, analis yang berbasis di Sydney dari lembaga kajian energi, Ember.
Terletak dua jam perjalanan ke utara Beijing dengan kereta cepat, Chifeng di Mongolia Dalam menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan China. Dengan populasi hampir empat juta jiwa, kota ini dipenuhi cerobong asap industri.
Di wilayah pinggiran kota, area seluas satu kilometer persegi kini dialokasikan untuk proyek yang menjanjikan pembenahan ekonomi lokal—yang selama ini bertumpu pada pertambangan dan ditenagai oleh batu bara.
Fasilitas milik Envision Group—dengan fasad putih bersudut tajam, dinding kaca setinggi ruangan, dan interior minimalis—merupakan pabrik hidrogen hijau terbesar di dunia.
Dengan biaya pembangunan sebesar US$2,6 miliar, fasilitas ini mulai beroperasi pada tahun 2024. Pabrik ini menggunakan elektroliser yang memanfaatkan tenaga angin dan surya untuk memisahkan air menjadi elemen yang, menurut para pendukungnya, akan merevolusi upaya penurunan emisi.
Ekspansi luar biasa China dalam sektor energi bersih telah menghasilkan pasokan tenaga angin dan surya dalam melimpah, hingga pada titik di mana semakin banyak energi yang terbuang percuma.
Mengalihkan kelebihan energi ini ke hidrogen hijau memecahkan masalah kurangnya pemanfaatan. Ketika diubah menjadi bahan kimia seperti amonia, energi terbarukan juga dapat disimpan untuk penggunaan di masa depan, mirip seperti baterai cair.
Masalah ini menjadi semakin mendesak bagi para pembuat kebijakan karena pemborosan energi melemahkan aspek ekonomi proyek-proyek energi terbarukan, terutama di saat sektor ini sedang bergulat dengan masalah kelebihan kapasitas dan persaingan harga yang sengit.
Proyeksi mengenai seberapa besar kapasitas hidrogen hijau yang akan ditambahkan dunia telah diturunkan dalam beberapa tahun terakhir. Jika pabrik seperti Chifeng berhasil, hal ini akan menegaskan kembali dominasi China sebagai pusat kekuatan teknologi bersih sekaligus membuka jalan untuk mengurangi emisi di industri-industri yang paling sulit diatasi.
Namun, kegagalan akan menimbulkan keraguan apakah hidrogen hijau dapat mencapai tahap kelayakan komersial di mana pun dalam waktu dekat.
Pangsa listrik dalam konsumsi energi akhir di China terus meningkat secara stabil, mencapai 30% pada 2025. Pemerintah menargetkan angka 35% pada 2030. Pencapaian sejauh ini terbantu oleh cadangan batu bara yang melimpah, biaya energi angin dan surya yang semakin murah, serta lonjakan penggunaan kendaraan listrik.
Mencapai kenaikan lima poin persentase berikutnya—yang juga harus memperhitungkan transisi bertahap negara tersebut dari batu bara ke energi terbarukan—akan lebih sulit tanpa pendekatan baru.
Dengan menerapkan strategi yang sama seperti saat membangun industri tenaga angin, surya, dan kendaraan listrik kelas dunia, Beijing kini berfokus untuk memperkuat sisi pasokan terlebih dahulu. Harapannya, permintaan akan mengikuti kemudian.
"Seiring dengan peluncuran rencana lima tahun China yang baru, pertumbuhan industri ini akan semakin bergantung pada bagaimana China—dan negara-negara yang memiliki keterkaitan ekonomi dengannya—dapat mendorong permintaan akan hidrogen hijau," ujar Yimin Lou, kepala produk sekaligus kepala bisnis hidrogen di Envision.
Namun, berbagai tantangan masih menghadang. Hidrogen hijau masih lebih mahal dibandingkan hidrogen "abu-abu" dan "hitam" yang berasal dari gas dan batu bara, serta hidrogen "biru" yang menggabungkan penggunaan bahan bakar fosil dengan teknologi penangkapan karbon.
Produsen hidrogen hijau memiliki akses ke subsidi dari pemerintah pusat dan daerah, serta melalui kredit karbon nasional. Namun, menurut BNEF, bahkan jika digabungkan, penghematan tersebut masih belum cukup untuk menyaingi biaya hidrogen abu-abu.
Selain itu, subsidi tersebut tidak selalu berdampak langsung pada konsumsi. “Hal terpenting adalah apakah kebijakan sisi permintaan dapat diterapkan, dan apakah kebijakan tersebut mampu mendorong permintaan riil serta menopang premi harga,” kata analis BNEF, Kathy Gao.
Posisi Terdepan
Meski demikian, keunggulan yang dimiliki China cukup besar.
Menurut BNEF, harga elektroliser buatan China sekitar empat kali lebih murah daripada yang diproduksi di Eropa.
Selain memimpin di bidang energi bersih, negara ini juga mendominasi produksi global di sektor-sektor industri yang sangat mencemari lingkungan seperti baja, semen, dan bahan kimia—yang selama ini lambat dalam mengurangi emisi, tetapi harus melakukan dekarbonisasi jika Beijing ingin mencapai target iklimnya.
Agar negara-negara lain dapat mencapai tingkat yang sama dalam bidang hidrogen, mereka perlu berinvestasi jauh lebih besar dan bergantung pada ekspor untuk memenuhi permintaan di masa depan.
“Bisa dikatakan bahwa, dari segala sudut pandang, China adalah pasar yang paling menguntungkan bagi pengembangan industri ini,” kata Gao.
Mongolia Dalam adalah contoh dari peluang ini. Wilayah ini mempunyai sumber daya angin dan surya terkaya di dunia, tetapi kebutuhan listrik terkonsentrasi di kota-kota pesisir yang jauh. Infrastruktur jaringan listrik masih tertinggal, sehingga menyebabkan peningkatan pembatasan pasokan listrik dari energi terbarukan.
Hidrogen menawarkan solusi. Di fasilitas Envision, pembangkit listrik tenaga angin dan surya di sekitarnya memasok seluruh kebutuhan listrik. Elektroliser pabrik dirancang khusus untuk berbagai tingkat daya yang dihasilkan oleh angin dan matahari.
“Pertimbangan utamanya adalah bagaimana membuka potensi permintaan yang lebih besar terhadap energi terbarukan,” kata Lou dari Envision.
“Secara historis, kemampuan pasar untuk menyerap energi terbarukan, terutama dari angin dan matahari, selama ini terbatas. Produk seperti hidrogen hijau dan amonia hijau menciptakan sumber permintaan yang benar-benar baru.”
(bbn)































