Pada tutup perdagangan, sejumlah Bursa Saham Asia kompak menguat. i.a., Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), KOSPI (Korea), Weighted Index (Taiwan), CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), Straits Times (Singapura), SETI (Thailand), TOPIX (Jepang), dan Shanghai Composite (China), yang berhasil melejit di zona hijau.
Cerahnya IHSG dan Bursa Saham Asia tersengat optimisme pasar terhadap pengumuman Menteri Keuangan AS Scott Bessent, mengenai buyback US Treasuries obligasi tenor panjang—dengan menggandakan pembelian pada tenor 10–20 tahun dan 20–30 tahun menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi, dari sebelumnya US$2 miliar, jadi pendorong penguatan Bursa Asia.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun turun ke level terendah masing-masing 4,64% dan 5,19% pada 19 Agustus, tepat setelah pengumuman buyback, dari level tertinggi 4,70% dan 5,29%. Dampaknya, sejumlah investor global memperkuat alasan mereka untuk melakukan diversifikasi investasi di luar dolar, termasuk pasar saham emerging markets.
Mark Cudmore, Ahli Strategi di Pasar saat Bloomberg Markets Live menuturkan, “Penurunan Indeks dolar (DXY) kembali berlanjut seiring perubahan kebijakan AS dan melemahnya kredibilitas mengikis daya tarik relatif dolar, sementara kondisi keuangan yang lebih longgar mendukung aset riil dan aset alternatif secara global.”
Di penutupan perdagangan spot hari ini, Jumat (21/8/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,3% di posisi Rp17.693/US$, seiring menyusutnya indeks dolar AS sebesar 0,29% menyentuh 98,608.
Penguatan nilai tukar rupiah hari ini menandai hari ketiga rupiah menguat dalam sesi perdagangan siang. Rupiah tercatat menguat 0,92% dalam tiga hari perdagangan.
Seperti yang diketahui, Phillip Sekuritas Indonesia memaparkan, yield US Treasuries bertenor 30 tahun pada Selasa mencapai level tertinggi sejak Juni 2007, yang saat itu sebelum terjadinya krisis keuangan global
Pengumuman yang mengejutkan ini memberikan dorongan semangat yang sangat dibutuhkan oleh para investor yang cemas akan lonjakan yield US Treasuries bertenor 10 tahun hingga 30 tahun, dipicu oleh prospek inflasi yang tetap tinggi, beban utang Pemerintah AS, serta kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Langkah ini diambil menyusul tindakan Kementerian Keuangan AS membeli JPY di pasar valuta asing pada bulan Juli lalu.
“Para analis menilai sinyal ini menunjukkan kepekaan Pemerintah AS terhadap kenaikan suku bunga jangka panjang sekaligus kecenderungan untuk melakukan intervensi langsung ke pasar,” mengutip Phillip Sekuritas, Jumat (21/8/2026).
(fad)






























