Saat ditanya oleh awak media mengenai apakah Beijing dapat membantu memediasi KTT antara Trump dan Kim, Menlu China tersebut menyatakan bahwa hal itu merupakan urusan kedua belah pihak untuk memutuskan. "AS harus mengubah kebijakan bermusuhannya yang sudah berlangsung lama terhadap Korea Utara," tegas Wang.
Beijing telah bergerak untuk menegaskan kembali pengaruhnya atas Pyongyang yang kian berani dalam beberapa bulan terakhir, setelah Kim secara drastis memperluas persenjataan nuklirnya dan menjalin hubungan yang makin erat dengan Moskow. Upaya-upaya tersebut ditandai oleh kunjungan pertama Presiden Xi Jinping ke Pyongyang dalam tujuh tahun terakhir pada Juni lalu, di mana ia sama sekali tidak menyinggung program nuklir Kim secara terbuka.
Kunjungan Wang ke Seoul juga memberi kesempatan bagi Beijing untuk makin menstabilkan hubungan dengan Korsel, sekaligus memanfaatkan ketegangan yang memanas terkait isu perdagangan antara Seoul dan Washington.
China sedang mempertimbangkan rencana pertemuan antara Xi dan Presiden Korsel Lee Jae Myung di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen pada November mendatang, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Korsel. Kementerian Luar Negeri China tidak segera merespons permintaan komentar saat ditanyai mengenai potensi pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan pada Rabu, Wang menyatakan China berharap dapat memperluas kerja sama dengan Korsel di berbagai bidang, termasuk kecerdasan buatan (AI), serta bersedia mempercepat negosiasi tahap kedua perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) antara kedua negara.
Wang dijadwalkan bertemu dengan Lee pada Kamis (20/8) sebelum melanjutkan perjalanan dinasnya ke Indonesia.
(bbn)






























