Logo Bloomberg Technoz

Risiko di Balik Kuota LPG 3 Kg 2027 yang Pecah Rekor 8,9 Juta Ton

Sabrina Mulia Rhamadanty
20 August 2026 13:00

Tumpukan LPG 3 Kg./Bloomberg-Dimas Ardian
Tumpukan LPG 3 Kg./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Rencana pemerintah meningkatkan volume subsidi LPG 3 Kg hingga 8,94 juta ton dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dinilai menjadi sinyal bahaya bagi ketergantungan Indonesia terhadap sumber energi impor. 

Pagu kuota subsidi gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram alias Gas Melon untuk tahun depan tersebut naik 11,75% dari outlook APBN 2026 sebanyak 8 juta ton.

Praktisi industri minyak dan gas (migas) sekaligus penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai lonjakan kuota subsidi LPG ini kontraproduktif dengan komitmen pemerintah yang berulang kali berjanji menekan volume impor komoditas tersebut.


“Sayang sekali ya, bisa disebut sinyal bahaya juga karena adanya peningkatan volume subsidi LPG 3 Kg ini bisa berdampak pada naiknya impor juga, padahal pemerintah sering bilang mau menekan impor LPG,” kata Hadi saat dihubungi, Kamis (20/8/2026).

Warga antre mendapatkan LPG 3 kg (gas melon) di pangkalan gas Ariestianto, Ceger Raya,Tangsel, Kamis (6/22025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Hadi menjelaskan pertumbuhan jumlah penduduk memang secara alami mendorong peningkatan konsumsi harian masyarakat terhadap gas melon.