"Jika harga komoditas tetap tinggi hingga akhir tahun, tidak menutup kemungkinan target PNBP yang telah ditetapkan dapat tercapai atau bahkan terlampaui," tambahnya.
Sekadar catatan, harga komoditas mineral dan batu bara pada semester pertama tahun ini mengalami tren kenaikan dibandingkan dengan semester pertama tahun lalu.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Harga Batubara Acuan (HBA) untuk kategori kalori tinggi tercatat naik bertahap dari kisaran US$103—US$104/ton pada awal tahun hingga sempat menyentuh US$126,58/ton pada Juli dan US$124,44/ton pada awal Agustus.
Jika dibandingkan dengan periode semester I-2025 yang mencatatkan HBA di kisaran US$102,22/ton, angka ini menunjukkan peningkatan secara tahunan atau year on year (yoy) hingga sekitar 21%.
Adapun, di sektor mineral logam, komoditas timah dan nikel menunjukkan pemulihan harga yang sepanjang semester I-2026 dari periode yang sama tahun lalu. Mengutip data London Metal Exchange (LME), rata-rata harga timah dunia melonjak lebih dari 23% yoy hingga menembus kisaran US$39.100/ton.
Sementara itu, harga nikel global yang sempat tertekan sepanjang 2025 kembali merangkak naik hingga menyentuh US$18.700—US$20.000/ton pada pertengahan 2026.
Komoditas logam mulia dan tembaga juga mencatatkan penguatan nilai jual yang mencolok pada semester pertama 2026 dari periode semester pertama 2025.
Berdasarkan penetapan ESDM, Harga Mineral Acuan (HMA) untuk emas sebagai mineral ikutan melonjak melampaui US$4.000/troy ons seiring dengan reli harga emas global yang didorong ketidakpastian ekonomi serta ketegangan geopolitik dunia.
Pada saat yang sama, HMA untuk komoditas tembaga terangkat mencapai US$12.557/dry metric ton (dmt).
“Kenaikan harga logam industri dan logam mulia ini secara signifikan memperkuat kestabilan harga komoditas mineral tambang dalam negeri sepanjang paruh pertama tahun ini,” ungkap Sudirman.
Sementara itu, pemerintah memangkas target produksi batu bara 2026 menjadi sekitar 600 juta ton dari realisasi 2025 sekitar 790—817 juta ton. Target produksi bijih nikel juga dipangkas ke kisaran 250—270 juta ton dari tahun lalu yang mencapai 379 juta ton.
(wdh)
































