Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Dibayangi Harga Minyak, Tapi Peluang Menguat Masih Terbuka

Tim Riset Bloomberg Technoz
11 August 2026 08:04

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah di pasar spot diperkirakan masih berpeluang mempertahankan tren penguatan, biarpun tekanan eksternal masih singgah. Peluang itu ditopang oleh sentimen pencalonan Destry Damayanti sebagai kandidat tunggal calon Gubernur Bank Indonesia (BI). 

Pasar sejauh ini menyambut pencalonan tersebut secara positif. Rupiah sempat menguat ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan setelah nama Destry diajukan, lantaran pasar melihatnya sebagai sosok yang berpotensi menjaga kesinambungan kebijakan bank sentral. 

Namun, pergerakan rupiah tak sepenuhnya mulus. Tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah dengan kenaikan harga minyak Brent ke US$87,8/barel, setelah kemarin sempat melonjak 4,99% dan pagi ini kembali naik 0,09%. 


Dengan pergerakan harga minyak yang masih menekan, rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) cenderung defensif. Mula-mula, rupiah di pasar luar negeri menguat terbatas 0,01% di level Rp17.825/US$, lalu tak lama berselang rupiah berbalik arah dan melemah 0,11% ke Rp17.845/US$. 

Posisi rupiah di pasar offshore pagi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya mengabaikan risiko eksternal. Meski sentimen domestik membaik setelah ada kepastian mengenai calon gubernur BI, tetapi investor di pasar offshore masih memperhitungkan risiko kenaikan harga minyak, dan bagaimana dampaknya pada arus modal serta neraca eksternal Indonesia yang tercatat masih defisit US$450 juta.