Namun, dengan meredanya kekuatan dolar AS, dengan indeks dolar sedikit terpangkas ke level 99,75 membuka potensi ruang penguatan bagi rupiah di pasar spot. Setelah menguat cukup tajam kemarin, rupiah diperkirakan akan masuk fase konsolidasi dengan bias menguat.
Kemarin, rupiah berhasil menembus level psikologis Rp17.800/US$, dan ditutup menguat di Rp17.762/US$. Jika sentimen domestik tetap dominan setelah pencalonan Gubernur BI, rupiah berpotensi menguat menuju Rp17.700/US$.
Akan tetapi, jalur penguatan rupiah belum bebas hambatan. Pergerakan di pasar offshore pagi ini masih berada di rentang Rp17.825-Rp17.845/US$, menggambarkan investor di pasar luar negeri masih lebih defensif daripada pasar spot. Harga minyak Brent yang masih tinggi jadi salah satu sumber tekanan eksternal, meski indeks dolar AS sedikit terpangkas.
Terlebih, ketidakpastian geopolitik masih terjadi dengan adanya serangan drone terhadap kilang minyak di Libya bagian barat baru-baru ini. Serangan itu menghancurkan sebuah tangki penyimpanan, meningkatkan risiko terhadap fasilitas minyak dan berpotensi memperburuk kelangkaan bahan bakar di negara anggota OPEC tersebut.
Di tengan berbagai sentimen yang ada, rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp17.740-Rp17.850/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berpotensi lanjut menguat pada perdagangan hari ini, usai keberhasilan menembus resistance potensialnya.
Rupiah punya target penguatan menuju Rp17.740/US$ sampai dengan Rp17.710/US$. Level selanjutnya berpeluang lanjut menguat bertahap menuju Rp17.600/US$ dengan tertembusnya resistance kuat dari posisi sebelumnya.
Jika rupiah justru melemah nantinya, maka support terdekat dapat menuju Rp17.780/US$. Sementara rentang gerak rupiah dalam support berada di antara Rp17.800/US$ sampai dengan Rp17.900/US$.
(riset/aji)





























